← Beranda
Catat 1,63 Juta Pengunjung, KAI Sebut Lawang Sewu Jadi Destinasi Heritage Perkeretaapian Indonesia
Sabik Aji Taufan• Sabtu, 12 September 2026 | 13.52 WIB
Destinasi wisata Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah. (Istimewa)

 

JawaPos.com - PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) mencatat Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah menjadi salah satu destinasi wisata heritage yang digemari pelancong, tertutama saat akhir pekan.

Pada periode 2024 hingga Agustus 2026, KAI mendata sudah ada 1,63 juta kunjungan wisatawan ke lokasi yang terkenal mistis tersebut.

Rinciannya yakni tahun 2024 mencatat 639.091 pengunjung. Tahun 2025 mencapai 620.550 pengunjung, sedangkan periode Januari–Agustus 2026 tercatat sebanyak 376.997 pengunjung. 

Perjalanan masyarakat menuju Kota Semarang juga didukung oleh layanan kereta api. Sepanjang Januari–Agustus 2026, Stasiun Semarang Tawang mencatat 1.262.315 pelanggan naik dan turun, terdiri atas 628.946 pelanggan naik dan 633.369 pelanggan turun. 

Baca Juga: Google Rilis Aplikasi Gemini Native untuk Windows, Bisa Diakses Pakai Alt + Spasi

Sementara itu, Stasiun Semarang Poncol melayani 1.867.005 pelanggan naik dan turun, dengan rincian 902.984 pelanggan naik dan 964.021 pelanggan turun.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, keberadaan destinasi heritage seperti Lawang Sewu menjadi bagian dari perjalanan masyarakat ketika berkunjung ke Kota Semarang.

“Perjalanan kereta api memiliki hubungan erat dengan perkembangan berbagai kota di Indonesia, termasuk Semarang. Lawang Sewu menjadi salah satu peninggalan yang menyimpan cerita perjalanan perkeretaapian dari masa lalu hingga saat ini," kata Anne dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9).

"Masyarakat dapat mengenal sejarah tersebut melalui bangunan, koleksi, dan informasi yang tersedia saat berkunjung,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Lawang Sewu merupakan destinasi yang terletak di kawasan Tugu Muda. Bangunan ini dibuat  oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda. 

Pembangunan gedung utama dimulai pada 1904 dan selesai pada 1907 sebagai kantor pusat NIS yang berperan dalam perkembangan jaringan perkeretaapian pada masa tersebut.

Pemberian nama Lawang Sewu dipengaruhi oleh karakter arsitekturnya yang memiliki banyak pintu dan jendela. Hingga saat ini, bangunan bersejarah tersebut menjadi salah satu tempat masyarakat mengenal perjalanan kereta api Indonesia melalui koleksi, informasi sejarah, serta ruang edukasi yang tersedia.

EDITOR: Sabik Aji Taufan