JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (11/9). Rupiah ditutup melemah 36 poin ke Rp 17.547 per dolar AS pada Kamis (10/9).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa rupiah hari ini dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri. Kondisi itu membuat mata uang nasional cukup fluktuatif.
"Untuk perdagangan (11/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.540 - Rp.17.590," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima Jumat (11/9).
Dalam paparannya, Ibrahim mengatakan bahwa sentimen eksternal datang dari data ekonomi Amerika Serikat (AS). Data itu penting bagi pelaku pasar untuk menilai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan.
Para pedagang bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI).
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp 17.480 per Dolar AS, Ditopang Data Ekonomi Domestik
"Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga," ujarnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memerkirakan peluang sekitar 60 persen kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan. Prediksi ini membuat pelaku pasar waspada.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengungkapkan rupiah juga terdampak risiko fiskal karena kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah telah isyaratkan anggaran negara masih aman, walaupun harga minyak tinggi harus diwaspadai.
"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor. Kenaikan harga minyak meningkatkan alokasi anggaran subsidi dan kompensasi energi, baik BBM maupun LPG," ucapnya.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 17.670 per USD Hari Ini, Ini Pemicunya
Dia menjelaskan apabila penerimaan negara tidak mampu menutupi kenaikan belanja subsidi energi, risiko defisit anggaran melebar di atas target makin besar. Kenaikan harga minyak juga dapat tekan nilai tukar rupiah.
"Apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, itu dapat melemahkan nilai tukar mata uang domestik. Jika pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM domestik untuk kurangi beban APBN, itu akan picu inflasi dan tekan daya beli masyarakat," ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah biasanya andalkan fiscal buffer atau bantalan fiskal. Salah satu caranya lewat peningkatan pendapatan ekspor komoditas lain atau windfall untuk jaga kondisi anggaran tetap aman.