← Beranda
Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 17.670 per USD Hari Ini, Ini Pemicunya
Djati WaluyoRabu, 9 September 2026 | 14.28 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, di Jakarta (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu (9/9), setelah sebelummya ditutup melemah tipis 6 poin menjadi Rp 17.632 per dollar AS pada perdagangan Selasa (8/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (9/9) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.630-Rp 17.670," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Rabu (9/9).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Fokus pasar selanjutnya adalah data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan rilis pada Kamis (10/9), disusul data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat (11/9).

Menurut dia, data inflasi AS akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

“Pasar terus memperhitungkan peluang sekitar 60 persen bagi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan, yang mencerminkan dampak dari laporan *nonfarm payrolls* AS yang kuat pada pekan lalu,” ujarnya.

Ibrahim mengatakan, dari dalam negeri , ketahanan sektor eksternal Indonesia masih menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia mencapai USD 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 meningkat dibandingkan akhir Juli 2026 yang sebesar USD 145,3 miliar.

BI menyebut kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemrintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh BI di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor. Dengan demikian, cadangan devisa dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga. Hal itu didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing.

BI menyebut persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor yang dapat menopang aliran modal asing ke Indonesia.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra