← Beranda
Bukan Cuma Gaji, ini 3 Hal yang Dicari Gen Z di Dunia Kerja
Dimas ChoirulSelasa, 8 September 2026 | 03.09 WIB
Ilustrasi Gen Z bekerja. (Magnific - Freepik)

JawaPos.com - Dunia kerja mengalami perubahan seiring bergesernya ekspektasi generasi muda terhadap pekerjaan. Bagi Gen Z dan milenial, pekerjaan kini tidak hanya dinilai dari besaran gaji, tetapi juga dari makna, kesempatan berkembang, dan keseimbangan kehidupan personal.

Perubahan tersebut tercermin dalam Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2025. Survei itu menunjukkan bahwa generasi muda semakin mempertimbangkan tiga aspek dalam membangun karier, yakni money, meaning, dan well-being.

Bahkan, sembilan dari 10 Gen Z dan milenial menyebut pekerjaan yang memiliki purpose menjadi salah satu faktor penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut BYD M6 di Kembangan Jakbar, Ibu dan Anak Meninggal di TKP

Artinya, kompensasi tetap menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya faktor ketika generasi muda memilih maupun mempertahankan pekerjaan.

1. Money: Gaji dan keamanan finansial

Aspek finansial tetap menjadi bagian penting dalam keputusan karier. Penghasilan yang kompetitif dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memberikan rasa aman secara finansial.

Namun, generasi muda semakin melihat kompensasi sebagai bagian dari paket yang lebih luas. Mereka juga mempertimbangkan apakah pekerjaan yang dijalani memberikan prospek karier dan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan.

Baca Juga: Istana Ungkap Misi Prabowo ke Rusia: Buka Peluang Ekonomi untuk Indonesia

2. Meaning: Pekerjaan yang punya makna

Bagi generasi muda, pekerjaan juga semakin dikaitkan dengan tujuan yang lebih besar. Mereka ingin mengetahui bagaimana pekerjaan yang dilakukan setiap hari memberikan dampak, baik bagi perusahaan maupun masyarakat.

Kecenderungan tersebut membuat purpose atau makna pekerjaan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam membangun karier.

People & Organisation Associate Director Novo Nordisk Indonesia Adhika Widya Sena mengatakan perubahan kebutuhan tersebut turut mendorong perusahaan untuk membangun lingkungan kerja yang memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang sekaligus memahami kontribusinya.

"Perlu terus belajar dan beradaptasi untuk terus memberikan dampak," kata dia.

3. Well-being : Kesejahteraan

Selain uang dan makna, kesejahteraan atau well-being menjadi faktor yang semakin diperhatikan. Generasi muda tidak ingin perkembangan karier menghilangkan ruang untuk kehidupan personal.

Baca Juga: Ketika Produk Tas dan Jaket Kulit Garut Menjangkau Pasar Internasional

Karena itu, kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan profesional dan personal menjadi semakin relevan. Dukungan tersebut dapat berupa cuti melahirkan, cuti bagi ayah, caregiver leave, hingga fasilitas yang mendukung kesehatan keluarga.

Di perusahaan tempat Andhika, misalnya, pendekatan tersebut diterapkan melalui berbagai kebijakan yang memungkinkan karyawan menjalankan peran personal sekaligus profesional.

Perusahaan juga mencatat proporsi karyawan perempuan mencapai 56 persen dari Management Team dan 57 persen dari jalur karier tingkat manajer per September 2026.

Di sisi lain, kebutuhan untuk terus berkembang juga menjadi perhatian. Pengembangan karyawan tidak hanya dilakukan melalui pelatihan formal, tetapi juga pengalaman langsung dan interaksi dengan rekan kerja maupun pemimpin.

Baca Juga: PT Timah Kerahkan 15 Fire Fighter Tangani Karhutla di Kalimantan Barat

Pendekatan tersebut tercermin dalam prinsip pengembangan 70:20:10, dengan 70 persen pengembangan berasal dari pengalaman langsung, 20 persen dari interaksi dan pembelajaran, serta 10 persen melalui pelatihan formal.

"Bagi kami, menjadi tempat kerja terbaik berarti menciptakan lingkungan dimana setiap individu dapat mengembangkan potensinya, dan menemukan makna melalui kontribusinya dalam membantu meningkatkan kehidupan jutaan masyarakat Indonesia," tutup Adhika.

EDITOR: Bintang Pradewo