JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat produksi padi dan jagung di Indonesia pada Juli 2026 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan catatan pada Juli 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan realisasi luas panen padi pada bulan Juli 2026 mencapai 0,93 juta hektare, atau turun 1,05 persen dibanding Juli 2025 yang seluas 0,94 juta hektare.
“Seiring penurunan luas panen tersebut, produksi padi diperkirakan turun 1,00 persen, dari 4,80 juta ton GKG pada Juli 2025 menjadi 4,75 juta ton GKG pada Juli 2026,” ujar Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (1/9).
Ateng mengatakan, hal tersebut juga berpengaruh terhadap jumlah produksi beras yang tercatat mencapai 2,74 juta ton pada Juli 2026 atau turun 0,99 persen jika dibandingkan Juli tahun lalu.
Ia menjelaskan, secara kumulatif, realisasi luas panen padi selama Januari-Juli 2026 mencapai 7,24 juta hektare atau naik 0,57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, BPS memperkirakan potensi luas panen pada tiga bulan berikutnya atau pada bulan Agustus hingga Oktober 2026 akan turun 1,29 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi 3,07 juta hektare.
“Potensi produksi padi tiga bulan ke depan diperkirakan 16,18 juta ton GKG (turun 0,92 persen), sementara produksi beras diperkirakan 9,33 juta ton (turun 0,90 persen),” ujarnya.
Sementara itu, realisasi luas panen jagung selama bulan Juli 2026 mencapai 0,23 juta hektare atau turun 6,06 persen dibanding Juli 2025.
Penurunan terjadi seiring penurunan luas panen, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen atau JPK KA 14 persen pada Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,38 juta ton atau turun 6,33 persen dibanding Juli tahun lalu.
Meski begitu, produksi JPK KA 14 persen secara kumulatif selama Januari-Juli 2026 mencapai 10,08 juta ton, meningkat 0,45 persen dibanding Januari-Juli 2025.