JawaPos.com - Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjalani uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test sebagai calon Gubernur BI di hadapan Komisi XI DPR RI. Uji kelayakan tersebut berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8).
Destry merupakan calon tunggal Gubernur BI yang diajukan Presiden Prabowo Subianto melalui Surat Presiden (Surpres). Dalam proses uji kelayakan tersebut, Destry memaparkan sejumlah kondisi perekonomian nasional sekaligus strategi yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Destry, siklus ekonomi domestik saat ini masih belum mencapai kondisi yang optimal. Karena itu, masih tersedia sejumlah ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat aktivitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan.
Salah satu langkah yang disorot adalah penguatan fungsi intermediasi perbankan. Destry menilai perbankan nasional masih memiliki kapasitas yang dapat dioptimalkan untuk mendorong penyaluran pembiayaan kepada masyarakat dan dunia usaha.
Baca Juga: Rekening Mas Botok AMPB Diblokir, Eks Pimpinan PPATK: Kepercayaan Publik kepada Bank Bisa Hilang
Ia menyoroti keberadaan undisbursed loan atau kredit yang sudah memiliki komitmen namun belum ditarik oleh debitur. Nilainya disebut mencapai Rp2.548 triliun atau sekitar 21 persen dari total plafon kredit.
"Siklus ekonomi kita saat ini masih berada di bawah tingkat optimalnya. Pertumbuhan kredit masih dapat terus didorong, mengoptimalkan undisbursed loan yang saat ini mencapai Rp 2.548 triliun atau sekitar 21% dari plafon dan upaya penguatan daya beri masyarakat," kata Destry.
Destry juga melihat peluang untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, UMKM memiliki posisi strategis dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus mendukung peningkatan daya beli.
Penguatan pembiayaan bagi UMKM, lanjut Destry, dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat perputaran ekonomi. Sektor tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam menciptakan aktivitas usaha dan menjaga konsumsi masyarakat.
Ia menegaskan, menjaga stabilitas ekonomi semata belum cukup untuk menjawab berbagai tantangan perekonomian yang masih dihadapi. Diperlukan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada stabilitas, tetapi juga mampu menciptakan ruang bagi pertumbuhan.
Karena itu, Destry menyatakan Bank Indonesia perlu terus memperkuat bauran kebijakan yang dimiliki. Kebijakan tersebut diharapkan dapat berjalan seimbang antara menjaga stabilitas makroekonomi dan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Destry juga menilai, perkembangan kondisi ekonomi membutuhkan kapasitas kelembagaan yang semakin kuat. Bank sentral harus mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan dan tantangan yang muncul dalam perekonomian nasional maupun global.
"Bank Indonesia juga perlu terus memperkuat bauran kebijakan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini tentunya perlu juga diikuti oleh mandat dan tanggung jawab yang semakin besar sehingga menuntut kapasitas kelembagaan yang semakin kuat dan adaptif," pungkasny