← Beranda
Indonesia Merdeka 81 Tahun, Sudahkah Masyarakat Merdeka Finansial? 
Djati WaluyoSelasa, 18 Agustus 2026 | 04.27 WIB
Ilustrasi financial freedom. (Magnific)

 

JawaPos.com - Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, persoalan kemerdekaan finansial masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bagi sejumlah individu di Indonesia.

Pasalnya, kemerdekaan finansial tidak hanya berkaitan dengan besarnya penghasilan atau kepemilikan rumah, tetapi juga kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan dan memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan.

Perencana Keuangan Andy Nugroho mengatakan, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya merdeka secara finansial. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2026 masih terdapat 8,07 persen penduduk Indonesia yang masuk kategori miskin atau sekitar 22,93 juta orang.

“Kalau ingin dikatakan seluruh penduduknya sudah merdeka finansial, tentunya belum,” ujar Andy saat dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (17/8).

Andy mengatakan, untuk kelompok masyarakat yang secara ekonomi lebih mapan juga perlu dilihat lebih jauh. Pasalnya, kondisi ekonomi yang lebih baik belum otomatis membuat seseorang terbebas dari persoalan finansial.

“Untuk tahu apakah sudah merdeka finansial temtu fokus kita ke 91,93 persen penduduk yang ekonominya lebih baik. Dari angka tersebut juga harus didalami lagi apakah meskipun secara ekonomi lebih mapan, mereka benar-benar sudah merdeka secara finansial,” jelasnya.

Sementara itu, Perencana Keuangan, Prita Ghozie, mengatakan kemerdekaan finansial dapat dilihat dari arus kas bulanan positif, mampu mengelola utang dengan sehat, mempunyai dana darurat, serta memiliki aset untuk kebutuhan masa depan.

“Merdeka finansial ditandai dengan kondisi keuangan yang sehat: memiliki cashflow bulanan positif, pengelolaan utang dengan sehat, memiliki dana darurat, dan memiliki aset untuk masa depan,” ujar Prita saat dihubungi secara terpisah.

 

Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Merdeka Finansial?

Persoalan pendapatan bulanan atau gaji menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat Indonesai dalam mencapai kemerdekaan finansial. Meski begitu, Andy menilai bahwa pendapatan pas-pasan bukan berarti seseorang mustahil mencapai financial freedom.

Pasalnya, pendapatan bulanan dari gaji bukanlah satu-satunya hal yang dapat diperoleh oleh masyarakat untuk mencapai kemerdekaan finansial.

“Menurut saya bukan hal yang tidak mungkin meskipun bukan hal yang mudah juga, asalkan memenuhi syarat dan definisi merdeka finansial,” ujarnya.

Di sisi lain, Prita menilai ukuran cukup atau tidaknya sebuah penghasilan sangat bergantung pada jumlah tanggungan dan biaya hidup. Nominal gaji yang sama bisa memberikan kondisi finansial yang berbeda bagi setiap keluarga.

“Gaji Rp 5 juta bisa jadi cukup untuk biaya hidup satu orang di Kota Jogja. Namun, gaji yang sama mungkin sulit dikelola untuk satu keluarga dengan lima orang tanggungan di Jakarta,” jelas Prita.

Lanjutnya, persoalan menjadi lebih berat ketika seluruh penghasilan hanya habis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kondisi tersebut, rumah tangga tidak memiliki ruang untuk menabung maupun berinvestasi.

“Oleh sebab itu, pemerintah perlu hadir untuk menjaga kesejahteraan mereka,” ucapnya.

 

Bukan Sekadar Punya Rumah

Kedua perencana keuangan tersebut sepakat bahwa kemerdekaan finansial tidak cukup diukur dari kepemilikan rumah maupun besarnya aset.

Andy mendefinisikan merdeka finansial sebagai kondisi ketika seseorang memiliki penghasilan pasif yang terus berjalan tanpa harus bekerja atau terlibat secara aktif, dan penghasilan tersebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup.

“Menurut saya merdeka finansial adalah memiliki penghasilan pasif yang terus berjalan tanpa kita harus bekerja atau terlibat bekerja secara aktif, dan dari penghasilan pasif tersebut mampu memenuhi semua kebutuhan kita,” katanya.

Sementara Prita melihat kemerdekaan finansial ditandai dengan kondisi keuangan yang sehat atau dapat digambarkan dengan memiliki cashflow bulanan positif, pengelolaan utang dengan sehat, memiliki dana darurat, dan memiliki aset untuk masa depan.

“Sehingga, dengan memiliki kondisi ini, maka rumah tangga memiliki kebebasan untuk memilih gaya hidup yang ingin dijalankan,” tuturnya.

 

Tiga Langkah Menuju Financial Freedom

Untuk mencapai kemerdekaan finansial, Andy menyarankan masyarakat mulai melakukan tiga hal yaitu, belajar berinvestasi, memiliki sumber-sumber penghasilan baru, dan mengurangi, bahkan jika memungkinkan menghentikan, utang untuk kebutuhan konsumtif.

“Pertama, belajar berinvestasi. Kedua, memiliki sumber-sumber penghasilan baru. Ketiga, mengurangi, syukur-syukur bisa menghentikan berutang untuk hal-hal yang konsumtif,” ucapnya.

Sedangkan, Prita menekankan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui kondisi keuangan secara nyata. Caranya dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membuat anggaran keuangan.

Kemudian, bagi rumah tangga dengan tingkat perekonomian pas-pasan, Ia menyarankan agar hindari mengambil pinjaman online.

“Untuk yang sudah bisa menabung, maka harus membuat kantong-kantong aset yang terpisah sesuai tujuan keuangan,” ujarnya.

Terakhir, masyarakat perlu mulai menjadikan dana pensiun sebagai salah satu target kesejahteraan. Dengan begitu, pola hidup harus disesuaikan dengan kemampuan finansial agar kebutuhan masa depan tetap terjaga.

“Menjadikan dana pensiun sebagai target sejahtera, maka kehidupan pun perlu dikelola sesuai dengan kemampuan masing-masing,” pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati