← Beranda
Danantara Berhasil Buktikan Kinerja, Pesimisme Berubah Jadi Optimisme
AntaraSabtu, 15 Agustus 2026 | 02.14 WIB
Ilustrasi Danantara. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Sejumlah indikator kinerja menunjukkan sejumlah BUMN mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan di era Danantara.

​Data laba sejumlah BUMN menunjukkan momentum positif. Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato tahunan di Gedung Parlemen Senayan, Jumat (14/8), laba BUMN naik signifikan.

Seperti laba PT Timah yang naik 804,7 persen, Pupuk Indonesia (naik 253 persen), Semen Indonesia (196,5 persen), Pegadaian (84,6 persen), Pertamina (80 persn), Pelindo (60,4 persen), BTN (40,8 persen), dan Bank Mandiri (24,3 persen).

Baca Juga: Kinerja BUMN Mulai Pulih, Krakatau Steel dan Kimia Farma Berbalik Cetak Laba

​Selain itu, tercatat pula kisah turnaround dari dua BUMN yang sebelumnya merugi seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma.

Keduanya kini berhasil membukukan laba. Meski periode pencatatannya berbeda-beda, arah kinerjanya menunjukkan tren yang sama yakni angka positif.

Perbaikan kinerja BUMN saat ini juga disebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari sejumlah perubahan mendasar dalam pengelolaan BUMN di bawah Danantara.

Baca Juga: Rayakan HUT RI ke-81, BRI Tebar Promo untuk Kuliner, Travel hingga Hiburan

Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade mengapresiasi kinerja positif Danantara dalam mereformasi BUMN.

Andre Rosiade mengungkapkan pimpinan Danantara layak mendapatkan penghargaan dari Presiden Prabowo atas kerja keras dan capaian yang diraih.

”Menurut saya layak, karena memang BUMN-nya berubah, kinerjanya membaik, labanya meningkat, setoran dividennya juga meningkat. Ya kenapa tidak? Itu bagian apresiasi Presiden kepada pembantunya yang sudah bekerja keras,” ujar Andre dilansir dari Antara di Jakarta, Jumat (14/8).

Dia melihat para pimpinan Danantara memang bekerja keras luar biasa. Mereka melakukan rapat maraton dari pagi sampai malam dengan berbagai BUMN untuk mengecek kinerja, progres berbagai BUMN.

”Dan itu saya mengetahui dan melihat betul bagaimana mereka melakukan review terhadap kinerja, melakukan restrukturisasi, dan juga membentuk model bisnis baru,” terang Andre Rosiade.

”Ya itu yang dilakukan pimpinan Danantara. Mereka bekerja sangat keras untuk melakukan membenahi BUMN dan kami diberikan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) oleh mereka untuk memantau, mengawasi dan juga memberikan masukan. Jadi menurut saya, boleh saja diberikan penghargaan karena memang kinerjanya ada dan terukur,” ungkap dia.

Baca Juga: Munas IV 2026 APPEKNAS, Perkuat Kolaborasi dan Profesionalisme Pelaksana Konstruksi Nasional

”Itu menunjukkan bahwa kemitraan Komisi VI DPR RI dengan Danantara Aset Manajemen sukses. Sukses bagaimana kita bermitra, saling dukung untuk membenahi BUMN-BUMN yang ada,” imbuh Andre.

Menurut dia, kemitraan tersebut mulai dari proses streamlining yang sedang dikerjakan Danantara terkait pengurangan BUMN sehingga semakin efektif dan efisien.

”Yang ketiga, membenahi bagaimana meningkatkan kinerja. Dan ini dasarnya adalah perubahan undang-undang BUMN yang kita lakukan yang menghadirkan Danantara dan juga perubahan keduanya untuk lebih menyempurnakan kinerja,” papar Andre Rosiade.

Baca Juga: Tutup 1.000 Tambang Timah Ilegal, Prabowo Beberkan Laba PT Timah Melonjak 9 Kali Lipat

”Saya sangat senang bahwa Presiden mengapresiasi kinerja Danantara yang bermitra dengan kami di Komisi VI DPR RI,” sambung Andre.

Sementara itu, pengamat komunikasi Hendri Satrio menyebut, peran penting Danantara tak hanya sekadar membangkitkan kinerja BUMN, melainkan telah mengembalikan optimisme publik.

”Jadi memang sudah jelas Danantara mengambil peranan sangat penting dan utama dalam pembangunan Indonesia di masa mendatang. Minimal di periode pertama pemerintahan presiden Prabowo dan sangat mungkin akan diteruskan di masa depan mengingat peran penting dan strategis Danantara,” kata pria yang akrab disapa Hensat itu.

Baca Juga: Pegadaian dan Kadin Indonesia Jalin Kolaborasi Strategis Perluas Ekosistem Emas dan Akses Pembiayaan

Dengan hadirnya Danantara, BUMN juga dinilai semakin fokus ke bisnis inti dan mengurangi aktivitas yang tidak menciptakan value.

Streamlining membuat struktur, proses, dan biaya ditata ulang agar lebih ramping dan disiplin. Selain itu, aset negara di BUMN dioptimalkan agar menghasilkan return, bukan sekadar tercatat di neraca.

​Dengan Danantara, sinergi antar BUMN diperkuat untuk membuka peluang economies of scale dan economies of scope.

”Intinya, aset negara dinilai tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus menghasilkan value. Di sinilah peran Danantara dianggap menjadi penting,” ujar dia.

Baca Juga: Indonesia Raih Swasembada Pangan dalam 1 Tahun, Klaim Prabowo

Terpisah, anggota DPR dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo menambahkan, reformasi BUMN merupakan langkah yang berani dan penting.

Menurut dia, terlalu banyak perusahaan negara yang tidak produktif justru dapat membebani keuangan negara.

”BUMN harus diisi perusahaan yang sehat, profesional, produktif dan mampu menciptakan nilai tambah. Restrukturisasi juga harus dijalankan secara transparan, akuntabel dan profesional agar tujuan akhirnya benar-benar meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian dan penerimaan negara,” kata Bambang Soesatyo.

Baca Juga: Tata Kelola Ekspor Satu Pintu, Ketua MPR Sebut PT DSI Jalankan Amanat Pasal 33 UUD 1945

​BUMN yang moncer dinilai bukan hanya soal aset besar. Tapi lahir dari aset yang dikelola disiplin, organisasi yang efisien, dan manajemen yang profesional.

”Di sinilah Danantara menjadi penting memastikan kekayaan negara tidak sekadar dimiliki, tetapi benar-benar dikelola untuk menciptakan value yang lebih besar,” papar Bambang Soesatyo.

​Perubahan ini disebut bukan sekadar restrukturisasi administratif, melainkan transformasi cara mengelola aset negara untuk menciptakan nilai yang lebih besar bagi Indonesia.

Baca Juga: Prabowo Targetkan 30 Ribu Kopdes Merah Putih Beroperasi Tahun 2026

​Jika sebelumnya pertanyaan publik berkisar pada apa bedanya Danantara dengan BUMN masa lalu? Hari ini beberapa jawaban mulai terlihat. BUMN semakin fokus, efisiensi semakin didorong, aset semakin dioptimalkan, dan profitabilitas mulai membaik.

Menurut Bambang Soesatyo, perubahan paling mendasar yang disorot adalah bergesernya ukuran keberhasilan dari sekadar siapa yang mengelola aset negara, menjadi seberapa produktif aset negara bekerja untuk Indonesia.

Hal Ini mencerminkan pergeseran paradigma dari kepemilikan negara atas modal menuju negara yang aktif mengelola modal kekayaannya yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Selaras dengan petikan pidato Presiden di Gedung Parlemen.

​”81 tahun yang lalu para pendiri bangsa (menetapkan) sebuah cita-cita, Indonesia yang berdaulat adil dan makmur. Indonesia yang kekayaannya harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang,” tandas dia dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8).

Baca Juga: Sebut Ekonomi Tak Boleh Asal Bebas, Ketua MPR Tekankan Peran Kopdes Merah Putih

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah