JawaPos.com - Penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda tidak lagi sebatas untuk transfer atau membayar tagihan dan transaksi digital.
Aktivitas finansial sehari-hari kini semakin bergeser ke layanan digital yang juga membantu pengguna memantau pengeluaran, memahami kondisi keuangan, hingga menyiapkan tujuan finansial jangka panjang.
Perubahan itu terlihat dari semakin tingginya transaksi pembayaran digital di Indonesia.
Baca Juga: Tuntaskan 1.948 Rekomendasi BPK, MA Raih WTP 14 Tahun Berturut-turut
Bank Indonesia mencatat volume transaksi BI-FAST pada triwulan II 2026 mencapai 1,529 miliar transaksi, tumbuh 38,09 persen secara tahunan. Nilai transaksinya dilaporkan mencapai Rp 3.777 triliun.
Pada periode yang sama, volume transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga meningkat 100,12 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital dalam aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Juli 2026 Turun Tipis ke 116,8, BI Sebut Masih Optimis
Bagi generasi muda, perkembangan ini membuat aplikasi perbankan berperan lebih besar dalam pengelolaan keuangan.
Fungsinya bukan lagi sekadar menjadi sarana memindahkan uang, tetapi juga membantu pengguna melihat pola pemasukan dan pengeluaran serta menyiapkan kebutuhan finansial berikutnya.
Perubahan perilaku tersebut mendorong perbankan mengembangkan layanan digital dengan fungsi yang lebih luas.
Salah satunya melalui pendekatan yang menggabungkan kebutuhan transaksi harian, pemantauan kondisi keuangan, dan pengelolaan aset dalam satu layanan.
Hingga akhir Juni 2026, layanan digital milik BNI, wondr by BNI, telah digunakan oleh 15,1 juta pengguna. Volume transaksinya tumbuh 110 persen secara tahunan.
Konsep pengelolaan keuangan yang ditawarkan dibagi menjadi tiga dimensi, yakni Transaksi, Insight, dan Growth.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Bangkit, MNC Sekuritas Cermati AMRT, EMAS, HRUM, dan ICBP
Transaksi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari, Insight membantu pengguna memahami arus keuangan sebelumnya, sedangkan Growth diarahkan untuk menjaga nilai sekaligus mengembangkan aset.
Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan pengguna layanan perbankan digital.
Setelah transaksi menjadi semakin mudah, tantangan berikutnya adalah membantu masyarakat memahami ke mana uang mereka mengalir dan bagaimana mempersiapkan kebutuhan finansial di masa depan.
Baca Juga: Tuntaskan Seluruh Rekomendasi Audit, BPK Nyatakan Keuangan BSSN dalam Kategori WTP
Dimensi Insight menjadi salah satu bagian yang berkaitan langsung dengan kebiasaan mengelola keuangan. Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat pemasukan dan pengeluaran berdasarkan aktivitas finansial sebelumnya.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengenali pola pengeluaran. Bagi pengguna yang ingin mengatur anggaran, data semacam ini dapat membantu melihat kebutuhan rutin, pengeluaran yang meningkat, hingga ruang untuk menyesuaikan penggunaan dana.
Sementara itu, kebutuhan transaksi harian tetap menjadi bagian utama. Pengguna dapat melakukan transfer, termasuk ke beberapa tujuan, transfer terjadwal, tarik tunai tanpa kartu, hingga transfer ke luar negeri.
Baca Juga: Destry Damayanti Bikin Rupiah dan Saham Menguat, Pemerintah Dukung Ordal Jadi Gubernur BI
Berbagai pembayaran juga dapat dilakukan secara digital, mulai dari pembelian pulsa dan pembayaran tagihan hingga pengisian saldo dompet digital dan transaksi menggunakan QRIS.
Kebutuhan finansial juga semakin berkembang dari sekadar mengatur pemasukan dan pengeluaran. Ketika kebutuhan jangka pendek mulai lebih terkelola, sebagian pengguna membutuhkan akses terhadap instrumen untuk mempersiapkan tujuan finansial jangka panjang.
Dimensi Growth dirancang untuk kebutuhan tersebut. Melalui bagian ini, pengguna dapat mengakses berbagai pilihan instrumen finansial untuk menjaga nilai dan mengembangkan aset.
Dengan menggabungkan ketiga fungsi tersebut, layanan perbankan digital diarahkan untuk menemani pengguna pada beberapa tahapan pengelolaan keuangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga persiapan masa depan.
Baca Juga: Kemiskinan dan Pengangguran Turun, IDEAS Soroti Kualitas Lapangan Kerja di Indonesia
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perusahaan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama.
Pengembangan layanan digital tersebut menjadi bagian dari upaya BNI meningkatkan kapabilitas digital dan produktivitas bisnis. Transformasi itu juga dijalankan sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.
Baca Juga: Pasar Otomotif Menguat, TAF Tekankan Pentingnya Pembiayaan Bertanggung Jawab
Ke depan, pengembangan layanan digital perbankan akan semakin ditentukan oleh kemampuannya menjawab kebutuhan pengguna secara praktis.
Bukan hanya menyediakan transaksi yang cepat, tetapi juga membantu masyarakat memahami kondisi keuangannya dan mengambil keputusan yang lebih terencana.
Bagi generasi muda yang aktivitas finansialnya semakin banyak berlangsung secara digital, perubahan tersebut membuat layanan perbankan memiliki peran yang lebih luas: dari tempat melakukan transaksi menjadi salah satu alat untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih teratur.
Baca Juga: Dengan UU PFII, Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Keuangan Syariah Global