← Beranda
Perak Makin Diburu, Defisit Pasokan Global Diproyeksi Berlanjut Hingga 2026
Dimas ChoirulKamis, 13 Agustus 2026 | 04.06 WIB
Ilustrasi perak batangan. (Istimewa)

JawaPos.com - Perak makin mencuri perhatian pasar seiring harga yang melonjak dan pasokan global yang terus mengalami defisit. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga 2026, memperkuat daya tarik perak di tengah reli harga logam mulia.

Harga perak dunia melonjak sekitar 69 persen secara tahunan dan sempat menguat lebih dari 10 persen hanya dalam pekan pertama Agustus 2026. Menurut data TradingEconomics, kenaikan ini jauh melampaui harga emas yang tercatat sekitar 30 persen pada periode yang sama.

Di pasar domestik, harga perak batangan Antam turut melonjak dari Rp39.450 menjadi Rp44.100 per gram hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Data ini berdasarkan catatan resmi dari Logam Mulia.

Menurut World Silver Survey 2026 yang diterbitkan Silver Institute bersama konsultan Metals Focus, pasar perak global mencatat defisit pasokan selama lima tahun berturut-turut hingga 2025.

Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026 sehingga memasuki tahun keenam dengan defisit yang berpotensi mencapai sekitar 46,3 juta ounce.

Permintaan perak dalam bentuk koin dan batangan melonjak 14 persen sepanjang 2025. Sementara permintaan industri dari panel surya, kendaraan listrik, hingga infrastruktur jaringan listrik dan pusat data AI tetap menjadi penopang struktural permintaan komoditas perak.

Menurut Regional Marketing Team Lead (APAC), JustMarkets, Niyas Yessengarayev, perak saat ini berada pada persimpangan yang jarang terjadi. Permintaan investasi yang kuat bertemu dengan defisit pasokan struktural selama enam tahun berturut-turut.

"Bagi trader dan investor, kombinasi ini menciptakan dinamika harga yang menarik, terutama karena perak cenderung memiliki pergerakan yang lebih besar dibandingkan emas dalam jangka pendek maupun menengah," katanya dikutip Rabu (12/8).

Ia menambahkan bahwa investor perlu memahami karakter ganda perak. "Komoditas perak bergerak seperti emas ketika pasar cari perlindungan dari kondisi ekonomi dan geopolitik yang tidak menentu, tetapi juga bergerak seperti komoditas industri saat data manufaktur dan permintaan teknologi bersih menguat.

Kombinasi kedua karakter tersebut membuat perak perlu dilihat dari perspektif berbeda, bukan sekadar mengikuti pergerakan emas," lanjutnya.

Emas Tetap Jadi Acuan, tapi Perak Unggul dari Sisi Momentum

JustMarkets menekankan rekomendasi perak bukan berarti mengesampingkan emas. Harga emas dunia (XAU/USD) tetap solid di level USD4.418 per ounce pada 11 Agustus 2026. Ini didukung pelemahan Indeks Dolar AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong minat terhadap aset safe haven.

Emas juga tetap menjadi acuan utama bagi trader yang memantau tren makroekonomi jangka menengah-panjang, seperti kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS.

Namun dari sisi momentum, rasio emas/perak — indikator jumlah ounce perak yang setara dengan nilai satu ounce emas — turun ke kisaran 68–69 pada awal Agustus 2026. Ini dari level di atas 70 beberapa pekan sebelumnya menurut data FXStreet.

Penurunan rasio ini, menurut Yessengarayev, konsisten dengan kinerja perak yang secara persentase mengungguli emas sepanjang tahun ini. Analis kerap membaca sebagai sinyal bahwa perak masih relatif undervalued dibandingkan emas.

"Rekomendasi kami bukan 'perak menggantikan emas', melainkan 'perak melengkapi emas'. Trader yang hanya fokus pada satu logam berisiko kehilangan separuh gambaran pasar. Kedua aset ini merespons faktor yang sebagian tumpang tindih dan sebagian lain berbeda sama sekali," jelasnya.

Ia menyarankan trader ritel di Indonesia cermati beberapa hal sebelum tambah eksposur perak. Di antaranya volatilitas harian yang lebih tinggi dibanding emas dan sensitivitas terhadap data manufaktur global selain data makroekonomi AS.

"Serta pentingnya manajemen risiko yang lebih ketat, mengingat pergerakan harga perak bisa mencapai dua digit hanya dalam hitungan hari," pungkasnya.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra