← Beranda
BGN Wajibkan Seluruh Pegawai Dapur Jalani Cek Kesehatan Rutin
Dimas ChoirulSabtu, 8 Agustus 2026 | 05.59 WIB
Ilustrasi kegiatan dapur SPPG di Kota Malang. (Radar Malang)

JawaPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan seluruh pegawai, relawan, dan pekerja di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Hal tersebut menyusul ditemukannya relawan yang bekerja dengan kondisi sakit hingga viral di media sosial (medsos).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pemeriksaan kesehatan akan dilakukan dengan memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah disediakan pemerintah.

Seluruh pekerja dapur juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kondisi kesehatan sebelum memulai aktivitas memasak.

Baca Juga: BGN Pecat 66 Kepala SPPG, Terlibat Judol hingga Diduga Pungli

"Jadi secara khusus BGN akan memerintahkan ke seluruh jajaran yang bekerja di dapur itu untuk kemudian melakukan cek kesehatan gratis untuk tahu kondisi kesehatannya," ujar Sudaryono dalam konferensi pers, di Kantor BGN, Jumat (7/8).

Menurut Sudaryono, pemeriksaan kesehatan harian juga akan diperketat untuk memastikan tidak ada pekerja yang sedang sakit tetap bertugas mengolah makanan.

"Dan juga kami sudah memerintahkan ke seluruh dapur sebelum memulai pekerjaan, seluruh karyawan, seluruh pegawai, seluruh relawan harus dicek suhunya, ditanya apakah anda diare, sakit perut, dan lain-lain itu keluh-keluhannya disampaikan. Manakala sakit, maka saya minta untuk diliburkan," katanya.

Sudaryono menegaskan langkah tersebut diambil karena pekerja yang sedang sakit berpotensi menularkan penyakit kepada rekan kerja maupun mencemari makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.

"Nah itu bisa menulari orang di dapur itu dan juga mengkontaminasi makanan yang kemudian dibagikan kepada penerima manfaat," tegasnya.

Baca Juga: Forum Kontraktor SPPG Desak BGN Lunasi Tunggakan Rp 800 Miliar, Ancam Hentikan Proyek

Ia juga menyinggung kasus pekerja dapur di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sebelumnya diduga terdeteksi menderita hepatitis.

Menurut Sudaryono, kasus tersebut sudah ditangani dan pekerja yang bersangkutan tidak lagi bertugas.

"Terkait tadi ada yang hepatitis itu sudah sebenarnya itu sudah kasus lama dan yang bersangkutan sudah tidak lagi bekerja di tempat itu," pungkasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra