← Beranda
Investor Kripto Indonesia Mulai Beralih ke Aset Tertokenisasi, Instrumen Berbasis Indeks Jadi Buruan
Rian AlfiantoJumat, 24 Juli 2026 | 05.26 WIB
Ilustrasi tokenisasi aset kripto. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Aset tertokenisasi (real world asset atau RWA) semakin diminati investor kripto di Indonesia. Sepanjang kuartal II 2026, aktivitas perdagangan aset digital yang merepresentasikan saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan, seiring meningkatnya minat investor untuk melakukan diversifikasi portofolio.

PT Pintu Kemana Saja (Pintu) mencatat jumlah trader aktif pada kategori aset tertokenisasi berbasis saham Amerika Serikat meningkat 18 persen secara quarter-on-quarter (QoQ). Pada periode yang sama, jumlah transaksi tumbuh 17 persen, sedangkan volume perdagangan naik 11 persen.

Presiden Direktur Pintu Andy Putra menilai, tren itu menunjukkan semakin banyak investor kripto yang mulai memanfaatkan aset tertokenisasi sebagai alternatif diversifikasi investasi.

Baca Juga: Jatuh Tempo September, Pemerintah Kebut Selesaikan Verifikasi agar Cicilan Kopdes Merah Putih ke Himbara Tak Molor

"Token berbasis aset dunia nyata, khususnya saham AS tertokenisasi, semakin menjadi pilihan sebagai bagian dari strategi diversifikasi investor dan trader crypto di Indonesia," kata Andy di Jakarta, Kamis (23/7).

Saat ini, platform tersebut menyediakan 45 aset tertokenisasi yang mencakup saham dan ETF Amerika Serikat. Produk tersebut mulai tersedia sejak September 2025.

Token ETF Berbasis Indeks Paling Banyak Diburu

Data pada kuartal II 2026 juga menunjukkan investor lebih banyak melirik token ETF berbasis indeks dibandingkan token yang merepresentasikan saham tunggal. Token ETF yang mengacu pada indeks Nasdaq-100 mencatat lonjakan volume perdagangan hingga 115 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jumlah trader aktif pada aset tersebut bahkan melonjak 196 persen.

Baca Juga: Jakarta dan Bali Dipersiapkan jadi Pusat Finansial Internasional Indonesia

Sementara itu, token ETF berbasis indeks S&P 500 juga membukukan pertumbuhan positif dengan kenaikan volume perdagangan sebesar 74 persen dan jumlah trader aktif meningkat 160 persen. Kondisi tersebut mengindikasikan semakin banyak investor baru yang memilih memperoleh eksposur ke pasar saham Amerika Serikat melalui instrumen berbasis indeks yang dinilai menawarkan diversifikasi lebih luas.

Menurut Andy, tren tersebut menjadi sinyal bahwa investor mulai beralih dari strategi berburu saham populer menuju pendekatan investasi yang lebih terdiversifikasi.

"Investor tidak lagi sekadar mengejar satu nama populer, melainkan mulai memanfaatkan tokenisasi untuk mendapatkan eksposur yang lebih terdiversifikasi terhadap pasar saham Amerika Serikat," ujar Andy.

Saham Teknologi dan Komoditas Ikut Menguat

Selain ETF berbasis indeks, sejumlah aset tertokenisasi yang merepresentasikan saham perusahaan teknologi juga mencatat pertumbuhan transaksi. Token berbasis saham Apple menjadi salah satu aset dengan kenaikan volume perdagangan tertinggi pada kuartal II 2026, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kenaikan juga terjadi pada token berbasis saham Circle yang tumbuh 60 persen, Microsoft naik 39 persen, serta token komoditas berbasis perak yang meningkat 39 persen. Sebaran pertumbuhan tersebut menunjukkan minat investor terhadap aset tertokenisasi mulai meluas ke berbagai sektor, tidak hanya terfokus pada satu jenis aset.

Adopsi Meningkat, Investor Tetap Diminta Memahami Risiko

Di tengah meningkatnya minat terhadap RWA, investor tetap diingatkan untuk memahami karakteristik setiap instrumen sebelum bertransaksi. Meski menawarkan akses ke berbagai aset global melalui teknologi blockchain, aset tertokenisasi tetap memiliki risiko sebagaimana instrumen investasi lainnya.

Baca Juga: Tren Hybrid Work dan BYOD Buka Celah Serangan Siber, Keamanan Endpoint jadi Sorotan

"Aset tertokenisasi tetap merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko, sehingga investor perlu memahami karakteristik, potensi imbal hasil, dan risikonya sebelum bertransaksi," tutur Andy.

Sebagai informasi, RWA merupakan aset dunia nyata yang ditokenisasi ke dalam jaringan blockchain sehingga dapat diperdagangkan dalam bentuk aset digital.

Instrumen ini mencakup berbagai aset, mulai dari saham perusahaan global, ETF, hingga komoditas seperti emas dan perak, sehingga memberikan alternatif bagi investor kripto yang ingin memperluas eksposur investasinya tanpa hanya bergantung pada aset kripto konvensional.

Baca Juga: Gelar P3DN Summit 2026, Pertamina Perkuat Industri Nasional Menuju Daya Saing Global

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah