← Beranda
Tren Hybrid Work dan BYOD Buka Celah Serangan Siber, Keamanan Endpoint jadi Sorotan
Nanda PrayogaJumat, 24 Juli 2026 | 01.30 WIB
Ilustrasi hybrid work. (Pinterest)

 

JawaPos.com - Perubahan pola kerja menuju sistem hybrid serta semakin luasnya penerapan konsep Bring Your Own Device (BYOD) membuat tantangan keamanan siber bagi perusahaan semakin kompleks. Meningkatnya penggunaan perangkat pribadi untuk mengakses sistem perusahaan memperbesar potensi celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Melihat kondisi tersebut, Hexnode bersama Ingram Micro Indonesia mengajak perusahaan menerapkan solusi endpoint management yang terintegrasi. Langkah ini dinilai mampu menjaga keamanan operasional sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis tanpa membebani pengelolaan teknologi informasi.

Sebagai bagian dari penguatan ekspansi di Indonesia, Hexnode juga menjalin kerja sama distribusi dengan Ingram Micro yang kini berstatus sebagai Authorized Distributor. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas jangkauan solusi keamanan endpoint Hexnode di pasar Asia Tenggara sekaligus melengkapi portofolio solusi enterprise milik Ingram Micro Indonesia.

Enterprise Sales Director ASEAN Hexnode, Keith O'Leary, menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan saat melakukan ekspansi adalah semakin luasnya permukaan serangan (threat surface) akibat meningkatnya penggunaan perangkat pribadi di lingkungan kerja.

Menurutnya, tren tersebut tidak hanya terjadi di kawasan ASEAN, tetapi juga menjadi fenomena global yang membuat perusahaan perlu meninjau kembali kebijakan pengelolaan perangkat yang diperbolehkan mengakses sistem internal.

“Apa yang kami lihat di ruang enterprise sejalan dengan tren BYOD. Dengan meningkatnya BYOD, tidak hanya di ASEAN tetapi secara global, pada akhirnya hal itu meningkatkan threat surface,” kata Keith saat sesi diskusi di Jakarta, dikutip Kamis (23/7).

Keith mengatakan, Hexnode berupaya membantu perusahaan memastikan implementasi BYOD tetap berjalan aman melalui proses verifikasi terhadap setiap perangkat pribadi yang digunakan untuk mengakses jaringan perusahaan.

Sementara itu, Director of Advance Solution Ingram Micro Indonesia, Hendrik Kumala, menilai keamanan endpoint kini menjadi salah satu perhatian utama para Chief Information Officer (CIO) di berbagai organisasi.

Ia menjelaskan, perubahan pola kerja dari yang sebelumnya terpusat di kantor menuju sistem kerja yang lebih fleksibel membuat pengawasan keamanan tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali tim teknologi informasi. Kondisi tersebut menyebabkan risiko keamanan berpindah ke perangkat yang digunakan masing-masing karyawan.

“Banyak perusahaan yang mengizinkan BYOD, artinya kontrol tidak lagi ada di IT. Tren-tren ini semakin mengekspos organisasi terhadap security threat, ditambah dengan meningkatnya ancaman cyber security seperti ransomware. Hal itu juga hal-hal yang perlu diperhatikan bagaimana mereka bisa mengelola lebih baik dari sisi endpoint,” ujar Hendrik.

Di sisi lain, banyak perusahaan selama ini memilih menambah berbagai perangkat keamanan untuk memperkuat perlindungan sistem. Namun, pendekatan tersebut justru kerap menciptakan lingkungan teknologi yang semakin rumit karena banyaknya solusi yang harus dikelola secara terpisah.

Situasi tersebut mendorong semakin banyak organisasi mulai meninggalkan strategi penambahan tools secara bertahap dan beralih ke platform keamanan yang lebih terintegrasi agar proses pengelolaan menjadi lebih sederhana.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengurangi kompleksitas pengelolaan endpoint tanpa mengorbankan aspek keamanan. Dengan sistem yang lebih efisien, organisasi juga memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mendukung ekspansi bisnis secara aman dan berkelanjutan.

EDITOR: Estu Suryowati