← Beranda
Berawal dari Modal Rp 5 Juta, UMKM Oleh-Oleh Khas Banjar Ini Tumbuh dari Rumah Kontrakan hingga Serap 17 Pekerja
Rian AlfiantoRabu, 22 Juli 2026 | 02.14 WIB
Ilustrasi UMKM oleh-oleh jadi penopang ekonomi daerah. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pandemi Covid-19 yang sempat memukul banyak pelaku usaha beberapa tahun lalu. Namun, hal itu justru menjadi titik awal lahirnya UMKM oleh-oleh khas Kalimantan Selatan yang kini berkembang pesat.

Berbekal modal Rp 5 juta dari hasil menjual tabungan emas, usaha rumahan yang dirintis pasangan suami istri di Banjarmasin berhasil berkembang dari rumah kontrakan menjadi dua gerai dan mempekerjakan 17 karyawan.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana digitalisasi dan kemudahan akses pembiayaan mulai menjadi salah satu faktor yang membantu UMKM bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen.

Baca Juga: Raih Peringkat AAA, Menkeu Purbaya Sebut Utang Panda Bond Indonesia 'Mentok Atas'

Firli Norachim bersama istrinya, Ani Andriani, memulai usaha pada 2020 ketika ketidakpastian ekonomi akibat pandemi masih berlangsung. Keduanya ingin mengangkat produk olahan khas Kalimantan Selatan agar memiliki pasar yang lebih luas, sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru.

”Dulu, modal, tenaga, dan waktu kami sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti,” kenang Firli.

Berawal dari Rumah Kontrakan dengan Modal Terbatas

Saat pertama kali merintis usaha, Firli dan istrinya masih bekerja sebagai karyawan di sektor farmasi dan industri kosmetik. Aktivitas usaha baru dilakukan setelah jam kerja selesai.

Baca Juga: Pendapatan Negara Tembus Rp 1.499,4 Triliun pada Semester I 2026

Modal awal yang hanya Rp 5 juta digunakan untuk memulai produksi berbagai olahan hasil laut yang berasal dari nelayan pesisir Kotabaru dan Pelaihari.

Nama usaha yang mereka bangun membawa filosofi ada cinta di setiap olahan mama, sebagai simbol kehangatan makanan rumahan khas Kalimantan Selatan. Dalam beberapa tahun, kapasitas produksi meningkat signifikan.

Jika awalnya hanya mengolah sekitar 20 kilogram ikan asin setiap bulan, kini jumlahnya mencapai 1 hingga 2 ton per bulan. Produk yang dihasilkan juga semakin beragam. Selain ikan asin, mereka mengembangkan abon ikan, amplang, sambal, sirup khas daerah, dodol, hingga berbagai produk frozen food yang dipasarkan sebagai oleh-oleh.

Pertumbuhan usaha turut mendorong ekspansi tempat usaha, mulai dari rumah kontrakan, menyewa ruko, hingga kini memiliki dua outlet resmi dengan 17 karyawan.

Digitalisasi Membuka Pasar Lebih Luas

Pembatasan aktivitas selama pandemi membuat pasangan ini mengubah strategi pemasaran dengan lebih mengandalkan penjualan secara daring. Mereka memanfaatkan berbagai marketplace untuk menjangkau konsumen di luar Kalimantan.

Langkah tersebut kemudian dilanjutkan dengan bergabung sebagai merchant di layanan belanja online pada 2023. Digitalisasi membantu memperluas jangkauan pelanggan, meningkatkan visibilitas usaha, sekaligus mempermudah pengelolaan operasional berbasis data.

Baca Juga: GAPKI Tegaskan Riset Sektor Sawit Harus Aplikatif dan Jawab Kebutuhan Industri

Selain pemasaran, transformasi digital juga dilakukan pada sistem pembayaran. Mereka mulai menggunakan QRIS untuk menerima transaksi non-tunai.

Firli mengatakan sistem pembayaran digital membuat pencatatan transaksi menjadi lebih praktis karena notifikasi pembayaran diterima secara real time. Sehingga mengurangi risiko kesalahan pencatatan sekaligus mempercepat proses pembukuan.

Kebutuhan Modal Meningkat Seiring Pertumbuhan Usaha

Sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar, kebutuhan modal usaha juga bertambah. Firli membutuhkan tambahan dana untuk memperbesar stok, mengembangkan produk baru, hingga meningkatkan kapasitas operasional.

Baca Juga: Hingga 19 Juli, Bapanas Telah Salurkan 9,44 juta Kilo Beras Program SPHP Lewat Kopdes Merah Putih 

Dia kemudian memanfaatkan fasilitas pendanaan digital GrabModal Mantul by OVO Finansial yang tersedia bagi merchant dalam ekosistem Grab. Tambahan modal tersebut digunakan untuk mengembangkan produk ikan asin dalam kemasan oleh-oleh, yang membutuhkan proses uji coba, penyempurnaan rasa, pengembangan kemasan, hingga pengujian pasar.

”Dengan adanya tambahan modal, kami bisa membeli lebih banyak barang untuk dijual kembali. Kalau stok tersedia, penjualan bisa meningkat dan pada akhirnya usaha juga bisa terus berkembang. Ditambah lagi, skema pemotongan harian sangat membantu. Kami tidak perlu memikirkan cicilan bulanan atau tanggal jatuh tempo secara manual. Kami cukup fokus menjaga penjualan harian,” papar Firli.

Pendampingan Digital Jadi Bagian Pengembangan UMKM

Selain memperoleh akses pembiayaan, usaha tersebut juga pernah mengikuti program pendampingan digitalisasi UMKM Kota Masa Depan: Berani Digital. Melalui program tersebut, pelaku usaha mendapatkan pelatihan mengenai strategi pengembangan bisnis hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Pemerintah Buka Peluang Turunkan Harga BBM Pertamax dalam Waktu Dekat

Firli mengaku pendampingan tersebut turut berdampak pada peningkatan performa penjualan melalui GrabMart, yang disebut meningkat hingga dua kali lipat.

Di sisi lain, Grab mencatat lebih dari 445.000 mitra UMKM dan mitra pengemudi di Indonesia telah memperoleh akses pendanaan melalui GrabModal dengan total penyaluran melebihi Rp 6 triliun sejak layanan tersebut diluncurkan. Melalui GrabModal Mantul by OVO Finansial, merchant dan mitra pengemudi dapat mengakses fasilitas pendanaan yang telah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah