JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Rabu (15/7), setelah sebelummya ditutup menguat 19 poin menjadi Rp 18.109 per dollar AS pada perdagangan Selasa (14/7).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri.
"Untuk perdagangan (15/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.090-Rp 18.140," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Rabu (15/7).
Baca Juga: Menjinakkan Bom Waktu Fiskal di Daerah
Ibrahim mengatakan pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil.
Menurutnya, S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.
Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I/2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I/2026. Pasar saham menjadi sektor yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar.
“Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sekitar 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama,” ujarnya.