JawaPos.com - Pengamat pasar modal, Hans Kwee menilai anggapan Indonesia berpotensi turun ke kategori Frontier Market (FM) yang dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak memiliki dasar yang kuat.
Menurutnya, saat ini pasar saham Indonesia masih memiliki 11 saham yang memenuhi seluruh persyaratan MSCI untuk kategori Emerging Markets (EM).
“Untuk saat ini pasar saham Indonesia ada 11 saham yang memenuhi 3 syarat diatas. Artinya kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang diatas kriteria itu masih lebih dari 3. Artinya menyebut Indonesia akan turun ke FM adalah kurang berdasar,” ujar Hans dalam catatanya dikutip Rabu (8/7).
Hans mengatakan, untuk mempertahankan status sebagai Emerging Markets, MSCI mensyaratkan sedikitnya tiga saham yang memenuhi tiga indikator utama, yakni Company Size, Security Size, dan Security Liquidity.
Seperti diketahui kriteria Company Size mengukur total kapitalisasi pasar perusahaan (full company market capitalization). Untuk kategori Emerging Markets, nilai minimal yang dipersyaratkan mencapai USD 3,937 miliar.
Baca Juga: MSCI Tetap Bekukan Saham Indonesia
Sementara itu, Security Size mengukur kapitalisasi pasar saham yang telah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik (free float-adjusted market capitalization atau float market capitalization).
Dalam perhitungan tersebut, MSCI menggunakan Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk mengukur porsi saham yang benar-benar tersedia, likuid, dan dapat dibeli investor institusi internasional. Nilai minimal yang dipersyaratkan sebesar USD 1,969 miliar.
Adapun Security Liquidity mengukur likuiditas perdagangan saham agar investor institusi dapat melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memicu gejolak harga yang ekstrem.
Untuk memenuhi kategori Emerging Markets, saham harus memiliki Annualized Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15 persen. Rasio tersebut mengukur tingkat aktivitas perdagangan saham selama satu tahun berdasarkan porsi saham publik (free float).
Hans memperkirakan alasan MSCI masih mempertahankan status pembekuan untuk Indonesia dikarenakan faktor data yang digunakan. Dimana, MSCI masih menggunakan data baru Indonesia hasil reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO.
Ia mengatakan, MSCI pasti perlu waktu untuk menerapkan data baru Indonesia yang saat ini lebih lengkap dan transparan.
“Data HSC dan klasifikasi investor yang naik dari 9 ke 39 serta data kepemilikan saham diatas 1 persen tentu akan mempertajam Analisa,” ujarnya.