JawaPos.com - Perusahaan pengolahan serta eksportir udang yang terafiliasi dengan anak bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) mengalami permasalahan utang pada sejumlah pihak.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PMMP memiliki sejumlah utang kepada PT Bank Resona Perdania, PT Bank SMBC Indonesia Tbk, PT Bank Maspion, PT Bank Central Asia Tbk, Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor, dan PT Bank Permata Tbk.
Adapun berikut rincian utang PMMP PT Bank Permata Tbk dengan outstanding sebesar USD 53,12 juta dan fasilitas tambahan Rp 5,49 miliar. Kemudian utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juta tercatat tinggi dengan outstanding USD 40,29 juta.
Kemudian terhadap Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) sebesar USD 30,71 juta. Selanjutnya utang dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar USD 22,80 juta , PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania masing-masing sebesar USD 7,21 juta dan USD 5,99 juta. Adapun saat ini, PMMP tengah mengajukan restrukturisasi utang-utamg tersebut.
“Saldo tersebut diatas diluar hutang bunga,” tulis manajemen PMMP dalam keterbukaan informasi dikutip Selasa (7/7).
Seiring dengan keterlambatan penyampaian laporan keuangan tersebut, perseroan juga mengaku akan menyelesaikan kewajiban pembayaran sanksi denda secara bertahap.
"Berkenaan dengan sanksi denda yang timbul atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan Perseroan berencana akan melakukan pembayaran secara bertahap," tulis manajemen.
Di sisi lain, PMMP juga tengah menyiapkan langkah perbaikan struktur permodalan melalui aksi korporasi. Perseroan berencana melakukan rights issue serta mengonversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui skema medium term notes (MTN).
"Upaya Perseroan untuk memperbaiki struktur permodalan kembali positif yakni dengan right issue, serta mengonversi sebagian utang usaha menjadi saham (MTN)," tulisnya.
Perseroan juga memastikan tidak terdapat informasi maupun fakta material lain yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham maupun kelangsungan usahanya.
"Saat ini tidak ada informasi/fakta material yang perlu kami sampaikan yang dapat memengaruhi harga efek Perseroan serta kelangsungan hidup Perseroan," tutupnya.