JawaPos.com - Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Didik J. Rachbini, mengatakan bahwa keberhasilan Vietnam naik status menjadi negara berpendapatan menengah atas dinilai menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri.
Ia menilai bahwa di tengah pelemahan sektor manufaktur yang tercermin dari turunnya Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia ke level 46,9 pada Juni 2026, pemerintah dinilai perlu kembali fokus membangun industri berorientasi ekspor dan investasi berkualitas.
Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dapat dipotret dari penurunan PMI manufaktur yang telah berada di bawah level 50 atau memasuki zona kontraksi.
"Keseluruhan keadaan ekonomi Indonesia bisa diprediksi atau bahkan dipotret dari satu indikator saja, yakni data PMI yang menurun bahkan nyungsep. Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50 persen," ujar Didik dalam keterangan yang diterima, Senin (6/7).
Didik mengatakan, data PMI yang dirilis S&P Global sebesar 46,9 pada Juni 2026 menunjukkan pelemahan sektor industri yang berlangsung cukup lama. Meski ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,61 persen pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan tersebut dinilai belum ditopang oleh sektor industri yang kuat.
Sebaliknya, Vietnam justru mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen yang didorong oleh pengembangan sektor industri secara konsisten selama dua hingga tiga dekade terakhir.
Hasilnya, pada Juli 2026 Bank Dunia menetapkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle-income country. Status tersebut diraih setelah pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Vietnam mencapai sekitar USD 4.970 atau melampaui ambang batas USD 4.636.
Menurutnya, keberhasilan Vietnam terjadi karena menerapkan kebijakan yang ramah terhadap investasi sekaligus membangun basis industri nasional secara berkelanjutan.
"Kebijakan seperti inilah yang dijalankan oleh Vietnam sehingga sekarang sudah melompat menjadi negara industri berpendapatan menengah atas," ujarnya.
Lanjutnya, ndonesia dapat memperoleh manfaat serupa apabila kembali menjalankan transformasi struktur industri secara konsisten. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan investasi berkualitas, memperluas lapangan kerja produktif, memperkuat ekspor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Ia menilai selama ini sektor industri Indonesia kehilangan arah karena tidak memiliki pijakan kebijakan yang jelas. Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan biaya produksi akibat faktor geopolitik global maupun persoalan domestik.
"Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi. Selain absen kebijakan industri, dunia usaha menghadapi tekanan biaya karena faktor geopolitik global dan faktor domestik," ujarnya.
Didik menambahkan, dunia usaha juga akan menahan investasi apabila belum ada kepastian kebijakan, proses birokrasi masih rumit, serta insentif yang diberikan belum mampu mendorong pertumbuhan industri secara signifikan.
Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat juga dinilai berkaitan erat dengan menyusutnya sektor industri yang menyebabkan kesempatan kerja produktif menjadi terbatas.
Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu memutus mata rantai tersebut melalui transformasi struktur industri, deregulasi, dan penyederhanaan birokrasi.
"Praktik kebijakan terbaik sudah dijalankan pemerintah pada tahun 1980-an dan 1990-an, yang menghasilkan ekonomi tumbuh 7–8 persen dan sektor industri tumbuh 10–12 persen. Tetapi kebijakan seperti ini tidak atau belum mampu dijalankan kembali," ungkapnya.
Didik menilai Vietnam justru menerapkan strategi industri yang pernah dijalankan Indonesia pada era 1980-an, yakni masuk terlebih dahulu ke rantai produksi global melalui investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang berkualitas.
Menurutnya, Vietnam mengarahkan investasi untuk mendukung industri berorientasi ekspor sekaligus memperkuat industri domestik. Strategi tersebut juga mendorong terjadinya transfer teknologi dan pengembangan inovasi.
"Sementara itu Vietnam membuat kebijakan transformasi struktur ekonomi dengan strategi industri, 'Masuk dulu ke rantai produksi global, baru naik kelas secara bertahap'," pungkasnya.