← Beranda
Rupiah Melemah, Orang Kaya Pilih Gadai Tas Branded dan Jam Mewah Ketimbang Menjualnya
Dinarsa KurniawanSabtu, 13 Juni 2026 | 07.58 WIB
David Tatangsurja dari Business Development PT deGadai Solusi Digital. (Istimewa)

 



JawaPos.com - Ketika nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (USD) , sebagian kalangan berada memilih langkah yang berbeda dalam mengelola keuangan.

Alih-alih menjual aset bernilai tinggi, mereka justru memanfaatkan barang mewah seperti tas branded dan jam tangan premium sebagai sumber likuiditas jangka pendek.

“Dengan menggadaikan aset, individu bisa mendapatkan likuiditas sambil tetap mempertahankan kepemilikan aset mereka tanpa terpengaruh nilai tukar,” ujar David Tatangsurja dari Business Development PT deGadai Solusi Digital.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap barang mewah. Tas Hermès, Chanel, maupun jam tangan premium seperti Rolex dan Patek Philippe kini tidak lagi diposisikan semata sebagai koleksi atau simbol status sosial.

Di kalangan pemilik aset bernilai tinggi atau high net worth individuals (HNWI), barang-barang tersebut mulai diperlakukan sebagai bagian dari portofolio kekayaan yang dapat dimanfaatkan ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak.

Menurut David, menjual aset premium saat pasar berada dalam tekanan sering kali bukan pilihan terbaik. Ketika nilai tukar rupiah melemah dan ketidakpastian ekonomi meningkat, harga jual aset bisa berada di bawah potensi nilai sebenarnya.

Karena itu, gadai menjadi alternatif untuk memperoleh dana tunai tanpa harus kehilangan aset yang dimiliki.

Strategi tersebut sejalan dengan tren global yang menempatkan barang mewah sebagai aset alternatif. Berbeda dengan banyak instrumen lain yang sensitif terhadap fluktuasi ekonomi domestik, sejumlah produk luxury memiliki pasar sekunder yang relatif kuat dan mampu mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.

Tas dari rumah mode ternama misalnya, kerap mengalami kenaikan harga dari tahun ke tahun, terutama untuk model yang diproduksi terbatas. Hal serupa juga terjadi pada jam tangan mewah dari merek tertentu yang nilainya terus meningkat di pasar kolektor maupun lelang internasional.

Melihat potensi tersebut, model pembiayaan berbasis aset atau asset-backed lending mulai mendapat perhatian.

Melalui skema ini, pemilik barang mewah dapat memperoleh dana tunai dalam waktu relatif cepat dengan menjadikan aset sebagai jaminan. Setelah kebutuhan likuiditas terpenuhi dan dana tersedia kembali, aset dapat ditebus sehingga kepemilikannya tetap terjaga.

Pilihan ini dinilai relevan bagi pelaku usaha maupun individu yang membutuhkan dana jangka pendek untuk menjaga arus kas.

Dibandingkan menjual aset atau mencairkan investasi pada saat kondisi pasar belum ideal, gadai memberikan ruang yang lebih fleksibel dalam pengelolaan keuangan.

Pelemahan rupiah sendiri bukan satu-satunya faktor yang mendorong tren tersebut. Volatilitas ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga perubahan arah kebijakan suku bunga di berbagai negara turut membuat banyak orang mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaannya.

David menambahkan, konsultasi mengenai gadai barang mewah dapat dilakukan secara real-time tanpa biaya melalui situs resmi perusahaan. "Langkah tersebut bertujuan memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai mekanisme gadai aset premium, termasuk estimasi nilai pembiayaan yang dapat diperoleh," terangnya.

Dia pun menuturkan, bagi sebagian kalangan, menjaga kepemilikan aset sambil memanfaatkan nilainya untuk memenuhi kebutuhan likuiditas saat ini menjadi pilihan yang dinilai lebih efisien dibanding melepas aset secara permanen. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan