← Beranda
Hadapi Gejolak Global, Prabowo: Saatnya Indonesia Berdikari
Djati WaluyoKamis, 11 Juni 2026 | 21.15 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto. (Istimewa)

 

JawaPos.com -  Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Indonesia akan terus berupaya untuk berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari, terutama di tengah ketidakpastian global.

Seperti diketahui, ketidakpastian global yang terjadi pada tahun 2026 berasal dari perang Rusia - Ukraina dan perang Timur Tengah, ketegangan geopolitik yang meningkatkan volatilitas pasar energi, pangan, dan keuangan di seluruh dunia.

Prabowo, mengatakan saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk mulai mengarahkan pembangunan menuju kemandirian nasional.

"Masa-masa yang penuh ketidakpastian seperti ini menuntut akal sehat, akal sehat untuk mendukung dan memajukan rakyat maupun perekonomian kita," ujar Prabowo seperti dikutip Kamis (11/6).

Prabowo menambahkan bahwa Indonesia telah menjalankan berbagai upaya untuk menjaga kepentingan nasional di tengah gejolak global. Ia mengatakan, saat ini pemerintah telah melakukan beberapa kebijakan fiskal guna menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Adapun, upaya yang dilakulan pemerintah dengan memperkuat disiplin fiskal tergambar dari pemangkasan anggaran nonesensial lebih dari Rp300 triliun, memperkuat digitalisasi perpajakan, memperbaiki tata kelola ekspor, memberantas penyelundupan, serta menjaga disiplin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus berinvestasi dalam memperkuat kedaulatan dan ketahanan jangka panjang Indonesia.

Salah satunya tergambar dari implementasi program B50, memperluas penggunaan energi terbarukan, membangun kilang baru, serta memperkuat cadangan bahan bakar strategis guna mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Dengan beberapa kebijakan tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tumbuh hingga 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 atau ditengah ketidakpastian kondisi global.

Prabowo mengatakan, selain pertumbuhan ekokomi rasio defisit fiskal Indonesia juga tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di tengah berbagai guncangan global.

"Indonesia tetap tangguh. Pada kuartal pertama tahun 2026, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara negara-negara G20 setelah India. Defisit anggaran kami tetap berada di bawah 3 persen dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju," jelasnya.

Ia mengakui bahwa transformasi nasional tersebut akan menghadapi tantangan besar. Bahkan, menurutnya, sejarah mengajarkan bahwa tidak ada transformasi nasional berskala besar yang berjalan sempurna.

Kendati demikian, Prabowo mengatakan bahwa upaya tersebut perlu dilakukan agar Indonesia dapat mencapai potensi maksimalnya dan tidak bergantung pada pihak lain.

"Kami bertekad agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerja yang kurang memuaskan," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati