JawaPos.com - Realisasi investasi Jepang di Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 13,2 persen. Jika diakumulasi, investasi negeri matahari terbit itu mencapai USD 17,1 miliar dan telah menyerap 278.887 tenaga kerja.
Pengamat Investasi dan Hubungan Internasional Zenzia Sianica Ihza menyebut, iklim investasi di Indonesia cukup baik. Sampai kini Jepang tetap menjadi investor terbesar ke-5 di Indonesia. "Investasi Jepang tetap tumbuh positif dan menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia," sebut Sianica Ihza di Jakarta pada Rabu (10/6).
Pandangan Sianica Ihza itu merespons kritik pengusaha Jepang Yutaka Togunaka tentang banyaknya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang tidak kunjung terealisasi menjadi proyek. "Itu tidak sepenuhnya benar. Data bicara lain," sambugnya.
Bahkan akumulai investasi Jepang mencapai USD 17,1 miliar merupakan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Untuk diketahui, sebelumnya Yutaka Togunaka yang merupakan pengusaha Jepang dan telah lama berbisnis di Indonesia menyoroti fenomena yang kerap terjadi dalam hubungan bisnis Jepang–Indonesia. Dia menyebut banyak MoU yang berakhir tanpa realisasi proyek yang jelas.
Di mata Zenzia, dalam praktik bisnis internasional, MoU pada dasarnya merupakan instrumen penjajakan awal yang tidak selalu berakhir menjadi kontrak investasi. Oleh karena itu, kurang tepat jika efektivitas hubungan ekonomi Indonesia-Jepang hanya diukur dari jumlah MoU yang berhasil direalisasikan menjadi proyek bisnis.
Baca Juga: Pentingnya Investasi Pendidikan dalam Memajukan Papua
Di seluruh dunia MoU adalah tahap awal untuk membangun komitmen dan menjajaki peluang kerja sama. "Tidak semua MoU sampai pada tahap implementasi. Banyak yang berhenti setelah studi kelayakan karena pertimbangan bisnis, perubahan pasar, maupun evaluasi risiko investasi," kata Zenzia.
Dia menyebut salah satu indikator yang lebih relevan untuk mengukur tingkat kepercayaan investor, yaitu realisasi investasi yang benar-benar masuk ke dalam perekonomian nasional.
"Untuk Indonesia-Jepang, data justru menunjukkan tren yang positif. Jika investor Jepang tidak percaya terhadap Indonesia, mereka tidak akan terus menambah investasi setiap tahun dan memperluas basis produksi mereka di sini," ujarnya.
Baca Juga: Harga Fluktuatif, Apakah Investasi Emas 2026 Tetap Potensial?
Merujuk pada data Kementerian Investasi dan Hilirisasi – BKPM, Zenzia menyebut dalam lima tahun terakhir Jepang tetap menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi paling penting di kawasan Asia Tenggara.
Dia menegaskan, faktanya perusahaan Jepang tidak keluar dari Indonesia. Mereka justru terus menambah investasi, memperluas fasilitas produksi, dan menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur regional. "Itu indikator kepercayaan yang jauh lebih penting dibanding jumlah MoU yang ditandatangani," kata Zenzia.
Meski begitu, Zenzia mengakui terdapat sejumlah tantangan yang masih menjadi keluhan investor Jepang. Di antaranya, proses birokrasi yang berlapis, sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah yang belum sepenuhnya harmonis, proses pengadaan lahan, hingga perubahan kebijakan teknis yang terkadang terjadi di tengah pelaksanaan proyek.
Sementara, karakteristik investor Jepang yang sangat mengutamakan kepastian. Mereka sangat memerhatikan detail perencanaan, kepastian hukum, kepastian jadwal proyek, dan konsistensi kebijakan. "Mereka biasanya tidak mempermasalahkan proses yang panjang selama arahnya jelas dan dapat diprediksi," ujarnya.
Baca Juga: Ingin Untung 10 Persen Per 15 Hari dari Investasi, Malah Rugi Rp 1,1 Miliar
Untuk itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi untuk meningkatkan daya saing investasi nasional. Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.
Pertama, memperkuat pengawalan investasi pasca-penandatanganan MoU agar setiap proyek punya target implementasi yang jelas dan terukur. Kedua, melakukan harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah sehingga investor tidak menghadapi aturan yang berbeda di lapangan.
Ketiga, menjaga transparansi proses pengambilan keputusan, khususnya pada proyek-proyek strategis yang melibatkan banyak kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Realisasi Investasi Jepang di Indonesia
- 2021: USD 2,6 miliar
- 2022: USD 3,5 miliar
- 2023: USD 4,6 miliar
- 2024: USD 4,1 miliar
- 2025: USD 2,3 miliar
Total 2021-2025: USD 17,1 miliar
Sumber: Akumulasi Data BKPM dan Laporan Investasi Tahunan