← Beranda
Ritel Modern dan Koperasi Merah Putih Bisa Saling Melengkapi, AGRA Dorong Pemda Lebih Arif
Dimas ChoirulSelasa, 2 Juni 2026 | 05.57 WIB
ILUSTRASI: Gerai Koperasi Merah Putih di Hambalang, Citeureup Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kehadiran Koperasi Merah Putih dan ritel modern bisa saling melengkapi. (Hendi Novian/Radar Bogor)

 

JawaPos.com – Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi bisnis ritel modern di daerah. Sebaliknya, keduanya dinilai bisa saling melengkapi dan memperkuat rantai distribusi nasional.

Hal tersebut diungkapkan Founder & Chairman Affiliation Global Retail Association (AGRA) Roy Nicolas Mandey. Roy mengatakan, pemerintah perlu mengambil peran untuk mendorong kolaborasi antara ritel modern dan KDKMP agar tercipta ekosistem perdagangan yang saling menguntungkan.

"Nah, sebenarnya kami melihat justru pemerintah sebagai dirigen dari satu orkestra ekonomi, orkestra perdagangan, itu tentunya berharap, kita berharap untuk justru menjadikan peran ritel itu menjadi supporting dari KDKMP," ujar Roy kepada JawaPos.com, Senin (1/6).

Baca Juga: Nggak Selalu Tanda-tanda Bangkrut, Penutupan Gerai Ritel Bisa jadi Karena Beberapa Faktor ini

Menurut dia, jaringan ritel memiliki keunggulan dari sisi rantai pasok yang sudah terbangun kuat selama bertahun-tahun. Hubungan dengan para principal maupun produsen juga telah terjalin sehingga bisa menjadi modal untuk mendukung pengembangan koperasi desa.

Selain itu, Roy menilai KDKMP dapat berperan memfasilitasi produk-produk lokal dari daerah agar bisa masuk ke jaringan ritel modern yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Dan ritel akan menjualkannya saat dikurasi dan itu baik, sesuai perizinan berlaku, maka bisa dipasarkan di seluruh Indonesia kan," katanya.

Ia menegaskan, yang perlu dikedepankan adalah semangat sinergi, bukan persaingan. Karena itu, pemerintah, khususnya pemerintah daerah, perlu memastikan masing-masing pihak dapat menjalankan perannya secara saling melengkapi.

Baca Juga: Dari Dapur ke Rak Ritel: Jogja Siapkan “Rantai Nilai Lengkap” Industri F&B 2026

Roy menilai tak tepat ada anggapan bahwa kehadiran ritel akan menghambat perkembangan koperasi desa merah putih. Menurutnya, tugas pemerintah daerah adalah menyelaraskan keberadaan kedua entitas tersebut di wilayahnya.

"Jadi bukan perbedaannya atau bukan seperti yang diisukan bahwa wah nanti KDKMP nggak bisa berkembang atau juga koperasi desa ini nggak bisa berkembang karena ritel juga ada di mana-mana. Nah, itu justru tugas pemerintah daerah bagaimana mensinkronkan itu," ujarnya.

Mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) itu menambahkan, kehadiran ritel di daerah juga membawa manfaat ekonomi, mulai dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi pajak daerah, hingga melengkapi fasilitas ekonomi di suatu wilayah.

"Tinggal bagaimana kearifan dari pemerintah daerah melihat bahwa ini bukan merupakan suatu tantangan tapi bagaimana justru merumuskan dalam satu sinergisitas," katanya.

Lebih jauh, Roy melihat peluang kerja sama antara ritel dan KDKMP tidak hanya terbatas pada penjualan produk. Menurut dia, ritel juga dapat berbagi pengalaman dan teknologi melalui program mentoring maupun kemitraan.

"Sebagai mitra dalam memperkuat rantai distribusi nasional misalnya, kemudian juga memberikan alih daya teknologi mungkin kepada KDKMP dengan sistem mentoring atau juga sistem kemitraan," tuturnya.

Terkait pasar, Roy menilai masing-masing pihak memiliki segmen tersendiri. Produk yang dijual langsung oleh koperasi desa dari petani, misalnya, berpotensi memiliki harga yang lebih kompetitif karena rantai distribusinya lebih pendek.

"Karena pasti punya segmen-segmen lah. Untuk produk yang langsung dari petani mungkin pasti lebih terjangkau ketika ambil dari koperasi desa merah putih karena kan langsung, tidak ada lewat perantara lagi. Tapi kalau kami mengambil produk dari petani pasti lewat distributor misalnya. Jadi ini kan bisa diatur dan punya segmen masing-masing," pungkasnya.

EDITOR: Estu Suryowati