← Beranda
Rupiah Sentuh Rp 17.500 per Dolar AS, Berikut Biang Kerok dan Proyeksinya Sepanjang Pekan Ini
R. Nurul Fitriana PutriSelasa, 12 Mei 2026 | 20.02 WIB
Ilustrasi uang Dolar Amerika dan Rupiah. (Dok/JawaPos.com)

JawaPos.com – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5) mata uang Garuda bahkan sudah menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan diperkirakan masih berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.550 dalam pekan ini.

Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal yang membuat pelaku pasar cenderung memburu aset safe haven berbasis dolar AS.

Menurut Ibrahim, dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dikabarkan menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Situasi itu memicu ketidakpastian baru, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Baca Juga: Harga Makin Mahal, Penjualan PS5 Anjlok 46 Persen

“Kita tahu bahwa Timur Tengah kembali memanas pasca Amerika Serikat menolak proposal yang dibuat oleh Iran yang dimediatori oleh Pakistan dan Qatar," kata Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (12/5).

"Penolakan ini membuat ketegangan baru karena secara tak terduga pun juga serangan-sekerangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz. Artinya apa? Bahwa ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas, walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai, kata Trump," tambah Ibrahim.

Ia mengatakan Iran masih melakukan serangan balasan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Di sisi lain, Uni Emirat Arab disebut tetap melakukan serangan terhadap Iran, termasuk yang menargetkan fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu.

Menurut Ibrahim, kondisi geopolitik tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil. Lonjakan harga energi dinilai meningkatkan biaya transportasi dan memperbesar tekanan terhadap negara-negara importir minyak seperti Indonesia.

“Nah, ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” jelasnya.

Selain faktor global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai belum cukup kuat untuk menopang penguatan mata uang Garuda.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, bukan dari investasi yang kuat.

“Pembentukan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 itu dari konsumsi masyarakat dan belanja negara. Dampaknya terhadap investasi sangat kecil,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar juga tengah menunggu keputusan MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Kekhawatiran muncul setelah adanya isu penurunan peringkat saham Indonesia yang berpotensi memicu arus keluar modal asing.

"Keputusan MSCI yang menurunkan peringkat saham di Indonesia, kemudian menurunkan peringkat juga. Ini menunggu dalam tiga hari ini. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah