← Beranda
Ekonomi Hijau Naik Daun, Sandiaga Uno Lihat Potensi Besar di Indonesia
Nanda PrayogaKamis, 16 April 2026 | 04.04 WIB
Pengusaha sekaligus investor, Sandiaga Salahuddin Uno, menilai ekonomi hijau memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak utama perekonomian. (istimewa)

JawaPos.com - Gagasan ekonomi hijau atau green economy kini semakin menguat sebagai arah baru pembangunan global, termasuk di Indonesia. Konsep ini tidak semata berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menekankan keberlanjutan lingkungan serta penciptaan jenis pekerjaan baru yang dikenal sebagai green jobs.

Pengusaha sekaligus investor, Sandiaga Salahuddin Uno, menilai ekonomi hijau memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak utama perekonomian nasional ke depan. Ia menyebut kawasan Asia, termasuk Indonesia, berada pada posisi strategis berkat kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah.

"Asia memiliki 60 persen populasi dan keanekaragaman hayati dunia. Itu bukan kerentanan, tetapi potensi," ujarnya dalam acara Mutu Green Economic Series di Jakarta, Rabu (14/4).

Ia menambahkan bahwa melalui perpaduan inovasi, dukungan pembiayaan hijau, serta reformasi kebijakan, risiko akibat perubahan iklim justru dapat diubah menjadi peluang ekonomi baru.

Menurutnya, ekonomi hijau bukan sekadar tren, melainkan strategi jangka panjang menuju Indonesia yang lebih maju, dengan kemampuan mendorong pertumbuhan sekaligus membuka lapangan kerja masa depan.

Ruang lingkup ekonomi hijau mencakup berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan limbah, kehutanan berkelanjutan, hingga ekonomi karbon. Dalam hal ini, pasar karbon menjadi salah satu peluang yang kian berkembang dan sudah memasuki tahap implementasi.

Di Indonesia sendiri, perdagangan karbon menunjukkan peningkatan signifikan dengan volume transaksi mencapai sekitar 700.000 ton CO₂ ekuivalen hingga pertengahan 2025.

Selain itu, potensi proyek berbasis alam seperti mangrove, lahan gambut, dan sektor kehutanan diperkirakan mencapai 13 miliar ton CO₂ ekuivalen, dengan nilai ekonomi sekitar USD 8 miliar per tahun atau setara kurang lebih Rp120 triliun.

Angka ini sejalan dengan berbagai kajian dari World Bank serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyoroti besarnya peluang ekonomi dari solusi berbasis alam (nature-based solutions) di Indonesia.

Secara keseluruhan, hasil kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional bersama International Renewable Energy Agency menunjukkan bahwa potensi ekonomi hijau Indonesia, meliputi energi terbarukan, ekonomi karbon, serta pengelolaan sumber daya berkelanjutan, dapat mencapai sekitar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 triliun dalam jangka panjang.

Nilai ini menjadikannya salah satu peluang ekonomi terbesar dalam transformasi nasional. Di tingkat global, sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor ekonomi hijau, seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan karbon, telah mencatatkan valuasi bisnis hingga triliunan rupiah.

Namun demikian, Sandiaga Salahuddin Uno menilai potensi yang belum tergarap masih jauh lebih besar, khususnya dalam pengembangan pasar karbon, penghitungan jejak karbon (carbon footprint), perdagangan kredit karbon, hingga teknologi pemantauan emisi.

Ia juga menjelaskan bahwa ekosistem ekonomi hijau bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu proyek berbasis alam, solusi teknologi seperti kecerdasan buatan dan blockchain, serta sistem pembiayaan dan perdagangan karbon. Lebih lanjut, ekonomi hijau juga memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja.

"Ekonomi hijau mampu menciptakan peluang kerja masa depan, dengan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, potensi ini bisa dikembangkan," ujarnya.

Jenis pekerjaan ini mencakup sektor energi bersih, pengelolaan lingkungan, teknologi rendah karbon, hingga pariwisata berkelanjutan. Bagi Indonesia, momentum untuk beralih ke ekonomi hijau dinilai sangat krusial.

Selain mendukung target penurunan emisi, langkah ini juga membuka peluang investasi baru serta meningkatkan daya saing di tingkat global. Dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi berbagai pihak, ekonomi hijau diyakini dapat menjadi fondasi pembangunan jangka panjang.

"Ekonomi hijau bukan hanya tentang lingkungan, tetapi tentang masa depan ekonomi Indonesia," tutupnya.

EDITOR: Estu Suryowati