← Beranda
Jogja Printing Expo 2026 Dibuka, Dorong Kolaborasi dan Inovasi Industri Grafika
Dimas ChoirulKamis, 9 April 2026 | 02.03 WIB
Jogja Printing Expo 2026 resmi digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 8–11 April 2026/(Istimewa).

JawaPos.com – Jogja Printing Expo 2026 resmi digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 8–11 April 2026. Pameran percetakan berskala internasional yang diinisiasi Krista Exhibitions Group ini kembali hadir sebagai ruang kolaborasi bagi pelaku industri grafika.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun kedua ini difokuskan untuk menghadirkan wadah strategis yang mempertemukan pelaku usaha percetakan dengan perkembangan teknologi terkini.

Selain menampilkan inovasi, ajang ini juga diharapkan mampu memperluas jejaring bisnis para peserta sekaligus memperkuat pertumbuhan industri percetakan nasional. Pameran tersebut juga diarahkan untuk menegaskan posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat industri grafika yang potensial.

"Kami berharap sinergi yang terbangun di Jogja Printing Expo 2026 dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing industri percetakan Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Daud dalam sambutannya.

Daud menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Krista Exhibitions dalam mendorong kemajuan industri percetakan nasional, terutama dengan menghadirkan teknologi mutakhir bagi pelaku kreatif, UMKM, dan pasar potensial di Yogyakarta.

Sebanyak 35 peserta ambil bagian dalam pameran ini, termasuk 15 pelaku UMKM. Mereka menampilkan beragam teknologi percetakan terbaru, seperti mesin digital printing beresolusi tinggi dengan reproduksi warna lebih presisi, kualitas yang konsisten, serta efisiensi tinta yang semakin optimal.

Baca Juga: Krista Exhibitions Bakal Gelar KRISTA INTERFOOD 2026 di NICE PIK 2

Teknologi CMYK+ turut diperkenalkan sebagai solusi untuk kebutuhan cetak komersial, fotografi, hingga kemasan premium. Selain itu, produsen mesin juga memamerkan perangkat offset, rotogravure, dan flexo modern yang dilengkapi sistem otomasi, pengaturan tinta digital, konsumsi energi rendah, serta integrasi Internet of Things (IoT) untuk pemantauan produksi secara real-time.

Sejumlah peserta juga menghadirkan teknologi UV-curing dan hybrid printing yang memungkinkan pencetakan pada berbagai material, mulai dari akrilik, kaca, aluminium, kayu, hingga media bertekstur. Inovasi ini dinilai mampu mendukung tren personalisasi yang semakin diminati di kalangan pelaku kreatif dan UMKM.

Beragam teknologi penunjang lain juga ditampilkan, seperti mesin label digital berkecepatan tinggi, printer flexo presisi tinggi, hingga teknik finishing berupa embossing, hot stamping, cold foil, dan efek holografik guna meningkatkan nilai visual produk.

Tak hanya itu, solusi finishing seperti laminasi glossy dan matte, die-cutting otomatis, serta mesin binding komersial juga diperkenalkan untuk menambah nilai jual produk cetak. Beberapa peserta bahkan memamerkan inovasi ramah lingkungan, termasuk tinta berbasis air, material yang dapat didaur ulang, serta mesin hemat energi.

Sebagai informasi, Jogja Printing Expo 2026 diselenggarakan bersamaan dengan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2026. Kehadiran empat pameran dalam satu lokasi ini memperkuat integrasi lintas sektor, khususnya percetakan, pengemasan, serta industri makanan dan minuman, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

"Program Business Matching kembali menjadi salah satu agenda utama dan dirancang untuk mempertemukan peserta dengan investor, distributor, serta penyedia teknologi yang memiliki relevansi langsung terhadap kebutuhan industri,” bebernya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan dukungan penuh pemerintah kota terhadap penyelenggaraan pameran tersebut. Menurutnya, ajang ini menjadi sarana penting bagi industri kreatif dan pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi percetakan, mengingat sekitar 80 persen pelaku usaha di sektor ini di Yogyakarta berasal dari UMKM.

Hasto juga menyoroti keberadaan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) di Yogyakarta yang dinilai memiliki potensi untuk dikolaborasikan dengan pameran ini ke depan. Dengan kekuatan sumber daya manusia yang kreatif, ia optimistis sektor desain dan percetakan di kota tersebut dapat terus berkembang.

"Jogja memang tidak memiliki sumber daya alam seperti batu bara atau emas. Kekuatan utama kami adalah Sumber Daya Manusia (SDM)," tegasnya.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin