← Beranda
Pilih Impor Pikap India, Agrinas Klaim Jumlah Produksi Pabrikan Jepang di Dalam Negeri Terbatas
R. Nurul Fitriana PutriRabu, 18 Maret 2026 | 00.58 WIB
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com-Keputusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Agrinas Pangan Nusantara untuk lebih dulu melakukan pengadaan mobil pikap sebelum Koperasi Merah Putih beroperasi sempat menimbulkan tanda tanya. Namun, di balik langkah tersebut, tersimpan alasan teknis dan strategis yang tidak sederhana.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan bahwa proses pengadaan kendaraan tidak bisa disamakan dengan pembelian komoditas harian seperti beras atau cabai di pasar.

“Karena begini, pengadaan mobil itu tidak seperti kita beli beras di pasar atau beli lombok di pasar. Prosesnya panjang, menyangkut kemampuan produksi hingga kesiapan industri,” ujar Joao Angelo kepada JawaPos.com saat ditemui di Kantornya, Senin (16/3).

Menurut dia, kebutuhan kendaraan yang sangat besar menjadi tantangan utama. Saat ini, Agrinas telah membangun lebih dari 32.600 unit Koperasi Merah Putih, ditambah 2.668 unit lainnya yang sudah selesai dan siap beroperasi.

Joao Angelo menyebut, kapasitas produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan itu secara cepat. Karena itu, Agrinas juga membuka opsi impor dan menjalin kerja sama dengan produsen global, seperti Mahindra dan Tata Motors dari India.

Bahkan, Joao mengungkapkan, pihaknya sudah memberikan uang muka (DP) kepada produsen agar mereka bisa memprioritaskan produksi sesuai kebutuhan Agrinas Pangan.

“Kenapa kita harus kasih DP? Karena supaya mereka menghentikan produksi linenya yang lain hanya fokus memproduksi kebutuhan kita. Ini tidak mudah,” jelasnya.

Bentuk desain eksterior dari pikap Mahindra parbrikan buatan India yang akan digunakan oleh Koperasi Merah Putih terparkir di Gedung Agrinas, Jakarta, Kamis (12/03). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Bentuk desain eksterior dari pikap Mahindra parbrikan buatan India yang akan digunakan oleh Koperasi Merah Putih terparkir di Gedung Agrinas, Jakarta, Kamis (12/03). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

 

Ia mengungkapkan, sebelum akhirnya memutuskan impor, produsen otomotif dalam negeri telah menghadapi keterbatasan kapasitas. Salah satu contoh, seperti Mitsubishi yang produksi kendaraannya hanya mampu mencapai sekitar 2.600 unit per tahun.

Untuk meningkatkan kapasitas hingga 13.600 unit, produsen harus melobi prinsipal di Jepang, termasuk perusahaan seperti .Bahkan, untuk mengejar target tersebut, pabrikan harus menambah lini produksi dari dua menjadi lima lini di fasilitas mereka di Tangerang. Langkah ini, kata dia, membutuhkan dukungan penuh dari Jepang, mengingat sebagian besar komponen utama seperti sasis, mesin, dan elektronik masih bergantung pada impor.

“Rata-rata semua produsen kita, dari sasis, mesin semuanya full dari Jepang. Jadi TKDN-nya hanya untuk bug ya. Bug kayak aki, barang-barang yang kita punya di sini. Jadi mereka harus deal-dealan dulu ke Jepang dan kita juga harus kasih DP dulu, baru mereka mau,” ungkapnya.

Selain faktor produksi, Joao menuturkan tantangan lain adalah kepercayaan dari mitra industri. Joao menyebut, banyak pihak awalnya meragukan kemampuan Agrinas dalam membangun puluhan ribu unit Koperasi Merah Putih dalam waktu singkat.

Dari realisasi pengadaan kendaraan terlihat mulai berjalan. Dari total mencapai 105.000 unit, terdiri dari 35.000 unit Mahindra Scorpio Pick Up (4x4). Lalu, pikap Tata Motors unit Yodha Pick-Up (4x4) sebanyak 35.000 unit dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck (roda enam).

Per 16 Maret 2026, Joao mencatat sekitar 1.200 unit mobil impor telah tiba di Indonesia, sementara kendaraan lokal yang sudah selesai diproduksi mencapai sekitar 80 unit. Soal bea masuk dan biaya lain yang menyertainya, Joao tidak memerinci, ia hanya memastikan bahwa seluruh unit mobil yang dipesan dari India dibayar dengan harga on the road.

Baca Juga: Atas Perintah Agrinas dan Mabes TNI, Babinsa Minta Kepala Desa Carikan Aset untuk Bangun Koperasi Merah Putih

“Saya beli mobil, harganya on the road, on the place. Terima semua sampai di tempat gitu,” terangnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan