JawaPos.com – Karyawan atau pegawai dengan masa kerja yang cukup lama atau bahkan puluhan tahun memang tidak bisa dianggap biasa. Dalam arti, di usia senjanya, mereka justru menjadi ‘bank skill’ bagi perusahaan karena pengalamannya.
Tak heran jika berbagai perusahaan tidak berkeberatan untuk memperpanjang usia kerja karyawan karena dianggap memiliki skill mumpuni atau bahkan belum bisa digantikan. Dalam Indonesia Health Forum yang diadakan Mercer Marsh Benefits (MMB) Indonesia baru-baru ini diungkapkan, setidaknya ada tiga keuntungan utama perusahaan jika memperpanjang masa kerja karyawannya.
Dalam pemaparan Astrid Suryapranata selaku Country Leader, Mercer Mars Benefits Indonesia, keuntungan pertama yang akan didapatkan perusahaan adalah tetap memiliki karyawan dengan pengetahuan mendalam.
Dikatakan Astrid, dengan pengalaman yang panjang maka karyawan tersebut lebih berpengalaman. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan institusional, kebijaksanaan interpersonal, dan penilaian. Pengalaman yang dimilikinya menjadi keterampilan yang sulit diotomatisasi, yang bukan tidak mungkin bisa memberikan peningkatan juga untuk perusahaan.
Lalu keuntungan yang kedua adalah memberikan bimbingan atau transfer ilmu. Karyawan multigenerasi justru bisa mentransfer ilmunya, atau bahkan bisa menggabungkan pengalaman kerja dengan yang lebih muda. Hal ini menjadi penting karena bisa meningkatkan inovasi dan produtivitas.
“Jadi yang older bisa memberikan pengetahuannya, kalau yang lebih muda bisa sharing tentang digitalnya,” ujar Astrid baru-baru ini.
Keuntungan ketiga yakni perusahaan punya ‘keterampilan tinggi’ yang langka. Hal ini dikarenakan pekerja yang lebih tua atau veteran punya naluri atau teknik untuk memecahkan masalah karena pengalamannya. Tentu ini tidak dimiliki karyawan baru, yang minim pengalaman.
“Jadi problem solve-nya lebih tepat sesuai dan tepat karena adanya pengalaman tersebut. Tentu karyawan yang lebih tua menguntungan perusahaan,” tukasnya.
Menurut Astrid, peluang karyawan yang masa kerjanya diperpanjang perlu jadi pertimbangan terlebih Indonesia sedang mengalami perubahan demografis yang signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan peningkatan populasi lansia di Indonesia akibat meningkatnya harapan hidup dan perbaikan masa hidup sehat (healthspan). Sehingga, perubahan ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan untuk menjaga produktivitas.
Pentingnya Merawat Kesehatan dan Kesejahteraan Karyawan sebagai Aset
Seperti yang sudah dikatakan Astrid, karyawan dengan masa usia yang panjang membawa keuntungan bagig perusahaan. Namun, hal tersebut tentunya perlu didukung dengan jaminan kesehatan dan kesejahteraan.
Sebab, diakui Astrid, berdasarkan data MMB, seseorang dengan umur di atas 55 tahun tentu penyakit yang dihadapinya lebih kompleks. Jumlah orang sakit di atas 55 tahun lumayan banyak. Misalnya, jika karyawan yang di bawah 55 tahun pada umumnya menghabiskan dana sekitar Rp 1,1 juta untuk berobat, sedangkan mereka yang di atas 55 tahun mengeluarkan Rp 1,7 juta.
Untuk itu, diperlukan persiapan kesehatan dan bagaimana kesejahteraan bagi karyawan yang didukung perusahaan. Karena umur panjang bukan bicara soal orang, tapi lintas generasi.
Perusahaan yang berinvestasi dalam kesehatan dan kesejahteraan karyawan akan memperoleh manfaat jangka panjang. Antara lain peningkatan produktivitas, penurunan tingkat absensi, serta loyalitas dan keterikatan karyawan yang lebih kuat.
Meski demikian, keberhasilan program kesehatan dan kesejahteraan karyawan memang tidak dapat diukur secara instan. Dibutuhkan waktu untuk melihat hasil yang optimal melalui implementasi yang konsisten, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Investasi di program ini tidak hanya membantu mengurangi biaya langsung seperti klaim asuransi kesehatan, tetapi juga menekan biaya tidak langsung seperti hilangnya produktivitas dan tingginya tingkat pergantian karyawan (turnover),” tukas Astrid.
Tren Kesadaran Perusahaan akan Kesehatan dan Kesejahteraan Karyawan
Dalam wawancaranya dengan JawaPos.com, Astrid memaparkan, kesadaran soal pentingnya pengelolaan kesehatan dan kesejahteraan karyawan oleh perusahaan di Indonesia pun mulai meningkat. Jika merujuk pada data Mercer Marsh Benefits Asia Pacific Employee Benefits Survey 2023, sekitar 60–70 persen perusahaan di Indonesia telah mulai mengintegrasikan program kesehatan dan kesejahteraan dalam kebijakan sumber daya manusia mereka.
Namun, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia, Indonesia masih berada pada tahap awal hingga menengah dalam penerapan program. Dikatakan Astrid, banyak perusahaan masih berfokus pada aspek kesehatan fisik, sementara kesejahteraan mental dan finansial belum sepenuhnya menjadi perhatian utama.
“Negara-negara tetangga cenderung sudah memiliki program yang lebih matang, dengan dukungan kebijakan, dan pemanfaatan teknologi yang lebih kuat,” paparnya.