← Beranda
Jelang Pengumuman Resesi, IHSG Justru Menguat
Nurul Adriyana SalbiahKamis, 5 November 2020 | 17.26 WIB
Wartawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis pekan ini. Selama perdagangan, IHSG terus bergerak di zona merah bahkan hi
JawaPos.com - Pelaku pasar sepertinya tidak merespon negatif terkait pengumuman data perekonomian kuartal III 2020, yang jadi penentu apakaih Indonesia masuk ke jurang resesi atau tidak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 5.161 atau lebih tinggi dibandingkan sesi penutupan bursa kemarin yang berada di level 5.105.

Pembukaan pasar saham pagi ini disambut oleh 253 emiten menguat, 57 emiten melemah dan 131 emiten tak bergerak. Mayoritas investor asing membeli saham dengan nilai pembelian nett sebesar Rp21,01 miliar dengan volume 142.964 lot.

Seluruh sektor menguat yaitu properti yang sebesar 2,14 persen menjadi 328, pertambangan 1,14 persen menjadi 1.449, perkebunan sebesar 1,07 persen menjadi 1.176, infrastruktur sebesar 1,47 persen menjadi 810 dan perdagangan 1,23 persen menjadi 658.

Selanjutnya sektor keuangan menguat sebesar 1,55 persen menjadi 1.153, aneka industri 1,89 menjadi 973, sektor manufaktur 1,24 persen menjadi 1.220, industri dasar 1,49 persen menjadi 764, dan sektor konsumer 0,92 persen menjadi 1.813.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, meskipun data pertumbuhan ekonomi penting, namun para investor telah memperkirakan bahwa ekonomi kuartal III akan kembali minus karena beberapa faktor. Seperti pertumbuhan investasi yang turun.

“Resesinya sih sudah (diperkirakan) ya, tapi angka pastinya yang ditunggu,” ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Kamis (5/11)).

Menurutnya, yang dinantikan oleh para investor dari pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) siang nanti adalah besaran angka koreksi dari pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun ini.

“Yang di Perkirakan pasar berkisar 1,2-1,3 persen. Tapi banyak pihak yang meramal 1-2,9 persen. Kalah angkanya minus 3 pasar ngga akan kemana-mana, tapi kalau diatas 3 maka pasar saham akan terkoreksi,” tutupnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=6-Lc_ixMp_U
EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah