Oleh: Elly Delfia
“Ilmuwan yang tidak membaca karya sastra hanya akan menghasilkan gagasan kering, tak inovatif, tak berjiwa, dan tak menyuarakan kemanusiaan. Sastra memberikan arah ke mana sains menuju “ (Oky Madasari, sastrawan Indonesia).
Kutipan di atas merupakan pernyataan Oky Madasari dalam artikel Permana (2021) dengan judul “Sastra vs Sains, Berpikir Kritis dan Multidisiplin untuk Masa Depan Bangsa”. Pernyataan yang menegaskan pentingnya sains dalam sastra. Kehadiran sains dalam sastra patut diperhitungkan dalam peta jalan perkembangan sastra Indonesia. Sains membuat sastra tidak hanya berbicara tentang nilai-nilai transendental, seperti budaya, agama, adat istiadat, politik, gender, ketidakadilan, tetapi juga tentang kebaruan ilmu pengetahuan.
Sastra Sains di Era Digital
Penyatuan sastra dan sains yang disebut sastra sains merupakan fakta baru dalam penciptaan karya sastra di era digital. Sastra sains didefinisikan sebagai karya sastra yang berbasis pada ilmu pengetahuan, berlandaskan logika, fakta, pengamatan, dan eksperimen yang dapat mengeksplorasi makna teks secara lebih mendalam karena didukung oleh diksi-diksi ilmiah, gaya bahasa yang menarik, dan mudah dipahami (Puspidalia, Junaidi, dan Hasyim, 2025).
Sastra sains hadir dalam novel Borneo 25 dan Vaksin Rahasia, novel yang ditulis Hardi, seorang dokter, praktisi kesehatan, dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Novel yang diterbitkan oleh PT Penamuda Media, Sleman, Yogyakarta, tahun 2026 ini seperti suara sunyi di tengah perkembangan sastra digital, seperti Novelme, Wattpad, Storial, Fizzo, kbm App, dan sejenisnya.
Novel ini berkisah tentang upaya penemuan vaksin rahasia yang dilakukan oleh Dokter Windy untuk mengatasi Virus N1X di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Di pulau indah yang menyamai Maladewa, Dokter Windy bersama Leo dan tim peneliti lain berusaha menemukan vaksin dengan menjadikan kera sebagai objek uji untuk reaksi-reaksi yang ditimbulkan akibat suntikan vaksin rahasia.
Percobaan demi percobaan dilakukan untuk menemukan vaksin baru agar dapat mengobati orang-orang yang kehilangan nyawa akibat virus N1X. Hati Dokter Windy gelisah dan berkecamuk, antara naluri kemanusiaan yang tidak tega melihat kera-kera sebagai objek uji sampel. Di sisi lain, hasratnya sebagai seorang peneliti juga tak bisa dibendung untuk menemukan vaksin yang dapat mengatasi virus N1X.
Novel ini membawa ingatan kita pada wabah Covid-19 yang pernah melanda dunia dan juga Indonesia pada akhir 2019 hingga tahun 2022. Wabah yang menimbulkan banyak trauma dan kematian akibat virus covid-19 menyebabkan masyarakat akrab dengan virus dan vaksin. Beberapa jenis vaksin pernah akrab di telinga kita, seperti Sinovac, AstraZeneca, Moderna, Sinopharm, dan lainnya yang disuntikkan ke dalam tubuh. Borneo 25 dan Vaksin Rahasia seperti perwujudan dari wacana intertekstualitas kisah pahit masa lampau tentang COVID-19 yang direkonstruksi dalam bentuk sebuah novel.
Baca Juga: Dunia Sastra Berduka, Penulis Legendaris Keigo Higashino Tutup Usia
Novel Borneo 25 dan Vaksin Rahasia hadir sebagai salah satu bentuk sastra sains alternatif di tengah riuhnya kemajuan sastra digital yang membuka ruang perdebatan terbuka tentang bentuk sastra di berbagai platform media sosial, meskipun perdebatan masih tetap dimenangkan oleh sastra tulis seperti novel (Hamurwati, 2025).
Keberadaan Borneo 25 dan Vaksin Rahasia menarik karena tidak banyak peneliti (researchers) maupun ilmuwan yang menuliskan hasil kerja ilmiah dalam bentuk novel seperti yang dilakukan Hardi. Borneo 25 dan Vaksin Rahasia adalah representasi dari sastra sains di era digital dengan muatan pengetahuan ilmiah sama dengan beberapa novel terdahulu yang pernah membicarakan sains, Supernova, Kesatria Putri, dan Bintang Jatuh yang ditulis Dee atau Dewi Lestari yang membahas teori chaos (efek kupu-kupu) dari Lorenz, geometri fraktal, teori astronomi tentang perbintangan dan kosmik, serta teori ko-evolusi dan nonlinier yang membahas perkembangan karakter manusia serta novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer yang berbicara tentang teori sosial marxis dalam karya-karyanya.
Sastra Sains sebagai Salah Satu Alternatif Penciptaan
Bentuk sastra sains dalam Borneo 25 dan Vaksin Rahasia dapat dijadikan contoh alternatif penciptaan karya sastra oleh penulis lain. Unsur sains dalam novel terlihat pada penggunaan istilah-istilah ilmiah dalam bidang biologi dan kedokteran, seperti uji klinis, virus varian delta, mutasi, alpha, gamma, dan vaksin yang merupakan bagian dari ilmu virologi, biologi, bioteknologi, metode, data, protokol, rentan, dan rhesus.
Ketika membuka mata, Windi merasa sedikit lebih ringan. Kita akan melanjutkan uji desain kombinasi besok?”katanya pada Leo. Kalau mutasi beta bisa lolos, kita buat varian delta dan gamma tak punya tempat bersembunyi.”
Di luar, malam semakin pekat, tetapi di dalam ruangan itu, tekad Windi menyala. Dia tahu perjalanan ini akan panjang, melelahkan, dan penuh kegagalan. Namun, di persimpangan antara sakit pribadi dan misi profesional, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat dari keduanya: keyakinan bahwa sains, jika dibawa dengan hati, bisa menjadi warisan yang melampaui waktu. (Hardi, 2026:72).
Sastra sains berfungsi untuk menawarkan pengetahuan baru dalam penciptaan karya sastra. Pengetahuan baru yang hanya bisa dipelajari di bangku perkuliahan dihantarkan oleh penulis ke hadapan pembaca dalam bentuk sastra yang naratif dan puitis. Penulis juga cukup piawai memadukan istilah-istilah ilmiah dengan bahasa puitik yang menyentuh nurani, seperti Di luar malam semakin pekat, tetapi di dalam ruangan itu tekad Windi menyala. Namun, di persimpangan antara sakit pribadi dan misi profesional, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat dari keduanya: keyakinan bahwa sains, jika dibawa dengan hati, bisa menjadi warisan yang melampaui waktu.
Pertarungan Batin Tokoh sebagai Pembelajaran
Novel ini juga sangat layak dibaca oleh mahasiswa kedokteran. Pertarungan batin para tokoh juga dapat dijadikan pembelajaran hidup untuk kuat menjalani profesi dokter. Beberapa tahun belakangan, marak pemberitaan media massa tentang kasus dokter-dokter muda yang bunuh diri karena mengalami tekanan yang berat dalam belajar ataupun bekerja. Novel ini dapat menjadi pengingat dan penghibur bagi mahasiswa kedokteran, para tenaga medis, dan tenaga kesehatan tentang profesi mulia yang mereka lakoni dan tentang pentingnya tetap teguh dan konsisten dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan saat belajar dan bekerja.
Novel berperan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan memanusiakan manusia, seperti yang diungkapkan Wellek dan Warren (1998), sastra tidak hadir sebagai sesuatu yang kosong belaka, melainkan sebagai penguat dan penjaga yang dapat memanusiakan manusia.
Windi membaca pelan. Wajahnya mengeras seiring kalimat-kalimat yang lewat. “Ini tak masuk akal. Mereka ingin kita menyuntik manusia tanpa pencatatan? Tanpa dokumentasi etik? Bahkan tanpa informed consent?”
Windi menunduk. Mereka bilang darurat. Banyak yang menunggu, banyak yang tak terjangkau. Banyak yang mati.”
Leo mendekat menatapnya tajam,”Jangan katakan padaku kamu mempertimbangkan ini, Dok.”
“Aku hanya berpikir. Jika vaksin ini memang efektif, bukankah setiap jam keterlambatan adalah kematian?”
“Dan setiap penyuntikan tanpa izin berarti kehilangan harga diri.” (Hardi, 2026:106).
Kutipan di atas merupakan dialog Dokter Windy yang merupakan representasi pertarungan batin seorang dokter dalam bertugas antara patuh pada kode etik profesi dan tanggung jawab menyelamatkan nyawa manusia yang berharga setiap detiknya. Dari pertarungan psikologis Dokter Windy, kita belajar bahwa tanggung jawab seorang dokter tidak mudah. Mereka harus bekerja di antara dua pilihan, antara menjaga etika profesi dan menyelamatkan nyawa manusia.
Terlepas dari semua kelebihannya, novel Borneo 25 dan Vaksin Rahasia juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Beberapa unsur dalam novel ini terasa hilang (missing) karena tidak menghadirkan sisi manusiawi dan kehidupan normal pada diri tokoh-tokoh. Kehidupan para tokoh digambarkan hanya terpaku pada riset dan riset. Tidak ada sisi romantis yang terjadi ataupun perdebatan emosional yang menyebabkan konflik yang harus diselesaikan dalam novel.
Tokoh-tokoh tidak menjalani hidup layaknya kehidupan manusia normal yang butuh healing, melakukan hobi, beradu argumen, dan berkonflik. Konflik lebih banyak dibangun dalam diri tokoh-tokoh, seperti luka masa lalu dan rasa trauma. Namun demikian, hal paling penting yang dapat dipelajari dari novel ini adalah pertarungan psikologis dan dilema yang dialami oleh seorang dokter saat mengambil keputusan dengan cara yang tidak pernah mudah. Semua itu disampaikan dengan perpaduan bahasa ilmiah dan gaya bahasa yang menarik di dalam novel.
---
*) Elly Delfia, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas