Oleh ARIF JUNIANTO
---
Buku ini juga membeberkan betapa kepincutnya Belanda terhadap Argopuro dan sejumlah rencana pernah mereka siapkan. Tapi, bagi yang belum pernah mendakinya, rasa-rasanya akan sulit mengikuti alurnya.
KOTA Wilhelmina? Kota itu masih misterius, kelahirannya kelak di masa depan. Namun, tempat di mana ia akan dilahirkan; surga tempat dirinya akan bangkit. Tempat itu adalah Dataran Tinggi Hyang. Dan kita akan terus berharap.”
Tak berlebihan ketika duet penulis Argopuro Understory Vol. 1, Gisbian Perdana dan Rakha Rizal Amin, menjadikan sepenggal alinea dari Soerabajaasch Handelsblad, sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Surabaya, edisi 5 Juli 1902, tersebut menjadi penutup. Dalam buku setebal 232 halaman itu, dua penulis muda yang tergabung dalam Komunitas Bermi Heritage tersebut seolah menampilkan betapa terpikatnya bangsa Belanda terhadap keindahan Dataran Tinggi Iyang atau Argopuro.
Dalam peta topografi yang dirilis dalam De Hoogvlakte van het Jang-Gebergte op Java pada 1895 karya J.L. van Gennep, dataran tinggi itu dinamai Jang Gebergte atau dalam bahasa Indonesia berarti Pegunungan Hyang (Iyang).
Dalam bahasa Jawa Kuno, kata Iyang atau Hyang bermakna ”sesuatu yang disembah”.
Pegunungan Iyang dengan sekitar 14.177 hektare luasan masuk sebagai kawasan suaka margasatwa (BKSDA Jawa Timur, 1986) sekaligus menjadi batas dari empat kabupaten di area Pandalungan, Jawa Timur. Empat kabupaten itu adalah Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan Jember.
Eksplorasi Pertama
Ketujuh bab (chapter) dalam buku ini seolah sengaja didesain kedua penulis untuk menjadi tali titian bagi saya untuk menjejaki jengkal demi jengkal keindahan alam Pegunungan Iyang. Keindahan yang membuat para ahli botani dan pakar perencanaan Belanda sebegitu kepincutnya.
Di tahap awal tali titian itu, kedua penulis mengajak saya menyertai perjalanan seorang ahli botani asal Prusia, Jerman, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn. Perjalanan yang diklaim sebagai penjelajahan pertama hutan Pegunungan Iyang tersebut dilakukan Junghuhn bersama seorang kontrolir (controleur) Bondowoso bernama Charles Bosch pada 30 Oktober 1844.
Namun, lantaran Junghuhn tergolek sakit, Bosch memulai ekspedisi terlebih dulu dengan titik start dari Jember bersama seorang ronggo (penguasa) Bondowoso, Kreto (Kerto) Koesoemo, pada 23 Oktober 1844.
Alhasil, rombongan pun terpecah menjadi dua: rombongan Bosch yang berangkat lebih dulu dan rombongan Junghuhn yang berangkat kemudian, tepatnya pada 30 Oktober 1844.
Dari perjalanan itulah, pembaca akan disuguhi fakta sejarah ihwal struktur geologi puncak-puncak di Pegunungan Iyang. Selain itu, dijelaskan pula tentang flora dan fauna yang ditemui Junghuhn, mulai rerumputan dari genus Poa, pohon cemara (kasuarina), rerumpunan pohon ek, hingga belukar pakis yang tinggi.
Begitu pula dengan fauna yang ditemukan, dijelaskan di buku ini, Junghuhn menemukan ribuan ekor rusa yang bergerombol, burung-burung merak, serta kotoran dan jejak kaki harimau. Namun, bukan hanya soal keindahan.
Keinginan Belanda untuk mengeksploitasi Pegunungan Iyang didasari temuan mereka atas masifnya perburuan rusa yang –menurut mereka– dilakukan warga pribumi. Belanda menyebut ulah masyarakat ini adalah perburuan barbar.
Paksaan Imajinasi
Melalui studi literasi yang dilakukan kedua penulis buku ini, petualangan saya pun –lewat perjalanan para tokoh Belanda– menjadi lebih kaya. Sayangnya, hal itu sepertinya hanya berlaku bagi saya yang sudah 3–4 kali mendaki Gunung Argopuro.
Tapi, bagi yang belum pernah mendaki Argopuro, atau setidaknya mendakinya hanya sekali–dua kali tanpa ada kesan sama sekali, rasa-rasanya akan sulit mengikuti alur kisah dalam buku ini. Minimnya legenda atau penanda dalam peta yang dilampirkan dalam buku ini, khususnya penanda titik-titik lokasi yang pernah disinggahi, baik oleh Junghuhn, Charles Bosch, maupun Verbeek, membuat pembaca susah membayangkan betapa ”heroiknya” perjalanan mereka.
Pembaca sepertinya akan kesulitan dalam membayangkan betapa sulitnya kondisi yang harus dilalui Charles Bosch dan rombongannya ketika mereka terjebak dalam kabut tebal. Bahkan, dengan kondisi fisik yang kian lemah, saat berada di tepian patahan tebing vertikal berwarna kekuningan, mereka harus berbagi makanan berupa dua buah kue seukuran rijksdaalder (koin Belanda yang di salah satu sisinya ada gambar William I).
Bicara soal peta, di buku ini, kedua penulis melampirkan empat buat peta, salah satu yang paling besar adalah peta berskala 1:40.000. Dalam peta itu, legenda yang tertulis hanya menunjukkan perkiraan dan rencana lokasi pembangunan proyek-proyek Belanda, yakni sanatorium, rumah sakit jiwa, dan rumah sakit beri-beri. Sementara itu, tiga peta yang lain bahkan tidak memiliki keterangan apa pun mengenai gambar di dalamnya.
Dari sini, bisa dikatakan bahwa buku ini memang lebih berisi perencanaan proyek Belanda di Pegunungan Iyang, mulai rencana pembangunan resor, rumah sakit, hingga sanatorium. Karena itu, tak heran ketika digelar diskusi saat peluncuran buku ini di Stiesia Surabaya pada 27 Januari 2024 lalu, muncul suara-suara kritis dari audiens yang didominasi para pencinta alam dan pelaku usaha wisata alam.
Kota Masa Depan
Sebagai pengagum dan pencinta keindahan semesta, saya pun tak bisa membayangkan apa jadinya jika rencana itu terwujud. Kota Masa Depan yang dibayangkan Belanda di Tanah Iyang bisa jadi membuat kawasan tersebut, jika mengacu pada konsep yang diajukan Dr Groneman dan kolega ketika itu, menjadi resor kelas atas.
Untuk saat ini, biarkan saja rencana pengembangan pariwisata Argopuro melalui wisata aviasi yang digagas Pemkab Jember dan Bondowoso menggulir. Melalui paket wisata aviasi itu, wisatawan akan dibawa terbang menggunakan pesawat Cessna menikmati keindahan Pegunungan Hyang dari atas dan kemudian mendarat di landasan kapal terbang yang ada di sabana Cikasur.
Namun, setidaknya buku ini menyadarkan kita semua akan pentingnya menjaga kelestarian Pegunungan Iyang. Itulah sebabnya, layak ditunggu kedua penulis ini melahirkan Argopuro Understory Vol. 2 yang menurut unggahan mereka di Instagram tinggal menghitung hari. (*)
Baca Juga: Apakah Kita Masih Bisa Bilang (Seni) Pascareformasi?
---
- Judul: Argopuro Understory Vol. 1
- Penulis: Gisbian Perdana dan Rakha Rizal Amin
- Penerbit: Ellunar Publisher
- Terbit: Pertama, Oktober 2023
- Tebal: 240 halaman
- ISBN: 9786233854382
---
*) ARIF JUNIANTO, Aktif menulis sastra, resensi, dan catatan perjalanan