JawaPos.com - Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan Artificial Intellegence (AI) sebagai alat pemberdayaan bagi jutaan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Meski begitu, para pelaku UMKM masih dihadapkan dengan tantangan dalam tata kelola.
Data Kementerian UMKM, 2026, lebih dari 90 persen UMKM di Indonesia belum memanfaatkan AI secara optimal. Sementara 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
"Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM bisa mengakses AI, tetapi sejauh mana AI dapat membantu mereka bekerja lebih efektif, menghemat biaya, dan meningkatkan omzet.” ujar VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (16/9).
Menurutnya, perjalanan transformasi digital UMKM tidak berhenti ketika sebuah bisnis memiliki akun media sosial atau website. Tahap berikutnya adalah membangun fondasi digital yang memungkinkan bisnis memanfaatkan teknologi secara lebih produktif.
AI, kata dia, dapat membantu UMKM dalam berbagai aktivitas, seperti menghasilkan ide dan konten pemasaran, membantu membangun website, melakukan optimasi mesin pencari, hingga mendukung proses bisnis sehari-hari.
"Namun, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai enabler—bukan pengganti manusia dalam mengambil keputusan," ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah pemerintah dalam membangun ekosistem AI nasional. Komdigi menekankan konsep Meaningful AI, yaitu AI yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dengan manusia tetap memiliki peran penting dalam pengawasan dan pengambilan keputusan.
Pemerintah juga tengah memperkuat kerangka tata kelola AI melalui Peta Jalan AI Nasional dan kerangka etika AI.
“Bagi kami, menjadi AI-ready bukan berarti setiap bisnis harus menjadi perusahaan teknologi atau memiliki tim AI sendiri. Yang lebih penting adalah memahami di mana AI benar-benar dapat memberikan dampak bagi bisnis, memiliki fondasi digital yang memadai, dan tetap memastikan manusia memegang kendali atas keputusan yang dibuat,” tambah Indra.
Sebagai penyedia solusi digital, Indra melihat bahwa salah satu tantangan utama dalam adopsi AI adalah kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan kemampuan pelaku usaha untuk menciptakan dampak nyata bagi bisnis.
Karena itu, pendekatan terhadap AI bagi UMKM perlu dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Alih-alih memperkenalkan AI hanya sebagai teknologi yang kompleks, pelaku usaha perlu diberikan pemahaman mengenai bagaimana AI dapat membantu menyelesaikan persoalan bisnis yang nyata.
“Digitalisasi UMKM tidak seharusnya menciptakan kesenjangan baru. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, kita perlu memastikan bahwa pelaku usaha kecil juga memiliki kesempatan untuk ikut berkembang. Peran penyedia teknologi bukan hanya menyediakan tools, tetapi juga membantu menjembatani pemahaman agar teknologi tersebut benar-benar dapat digunakan dan memberikan nilai,” jelas Indra.