← Beranda
Ekspansi ke Thailand Buka Jalan Baru Bisnis E-Commerce Indonesia
Rian AlfiantoSabtu, 15 Agustus 2026 | 15.07 WIB
Ilustrasi e-commerce. (EPIC Unicorn)

 

JawaPos.com - Ekspansi bisnis digital Indonesia ke pasar Asia Tenggara memasuki babak baru. Thailand menjadi tujuan berikutnya bagi perusahaan pengelola e-commerce Indonesia yang membawa sistem pengelolaan toko online berbasis data, AHA Commerce, sekaligus membangun tim lokal untuk menyesuaikan strategi dengan karakter pasar setempat.

 

Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan e-commerce di Asia Tenggara tidak lagi hanya soal membuka toko di marketplace. Pengelolaan data, pemahaman perilaku konsumen, strategi promosi, hingga kemampuan beradaptasi dengan karakter tiap negara menjadi faktor yang semakin menentukan pertumbuhan bisnis.

 

Perusahaan tersebut mulai menjalankan operasional toko online pertamanya di Thailand pada September 2025. Saat itu, perusahaan dipercaya mengelola marketplace milik sebuah brand yang sudah beroperasi di Thailand dan mencatat pertumbuhan omzet sebesar 221 persen.

 

Kini, operasional di Thailand telah memiliki badan usaha resmi, kantor, serta tim lokal yang seluruhnya direkrut dari Thailand. Model kerjanya menggabungkan tim lokal dengan tim Indonesia untuk menangani operasional e-commerce sejumlah brand.

 

Ekspansi tersebut tidak dibangun dari nol. Sebelum masuk Thailand, perusahaan telah mengembangkan sistem dan proses pengelolaan e-commerce selama lebih dari satu dekade di Indonesia.

 

Hingga kini, perusahaan mengklaim telah dipercaya menangani lebih dari 280 brand dengan dukungan lebih dari 220 tenaga ahli. Dalam 12 bulan terakhir, operasional yang dikelola mencakup lebih dari 8,1 juta pesanan dengan total omzet lebih dari Rpv453 miliar.

 

Chief Executive Officer perusahaan, Stephen Lawrence, mengatakan ekspansi ke Thailand merupakan upaya untuk menguji penerapan sistem yang selama ini dikembangkan di Indonesia pada pasar regional.

 

"Ketika sistem tersebut terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan yang konsisten bagi brand di Indonesia, kami melihat peluang untuk membawa pendekatan yang sama ke pasar regional. Thailand menjadi langkah awal kami dalam mewujudkan visi tersebut," ujar Stephen melalui keterangannya.

 

Pada tahap awal, layanan di Thailand berfokus pada pengelolaan toko online untuk brand lokal. Sistem operasional yang digunakan mengacu pada pengalaman di Indonesia, tetapi penerapannya disesuaikan dengan perilaku konsumen, karakter marketplace, serta pola promosi yang berlaku di Thailand.

 

Penyesuaian ini menjadi penting karena strategi yang berhasil di satu negara belum tentu bisa diterapkan secara identik di pasar lain. Perbedaan kebiasaan belanja, preferensi konsumen, persaingan marketplace, dan pola promosi dapat memengaruhi hasil penjualan.

 

Kolaborasi antara tenaga ahli Indonesia dan tim Thailand menjadi bagian penting dalam ekspansi tersebut.

 

Chief Business Officer sekaligus Co-Founder perusahaan, Andre Chouw, mengatakan tim Indonesia membawa sistem serta pengalaman operasional, sedangkan tim Thailand bertugas memastikan strategi tersebut tetap relevan dengan kondisi pasar setempat.

 

"Kami tidak datang ke Thailand hanya dengan pengalaman operasional, tetapi membawa sistem yang telah dibangun dan diuji selama bertahun-tahun. Tentu implementasinya tetap disesuaikan dengan perilaku konsumen, karakter marketplace, serta kebutuhan masing-masing brand di Thailand. Prinsipnya sama, namun eksekusinya harus relevan dengan kondisi pasar lokal," kata Andre.

 

Pendekatan tersebut membuat ekspansi tidak semata-mata berupa pemindahan model bisnis dari Indonesia ke Thailand. Perusahaan juga perlu membangun kemampuan lokal agar keputusan operasional dapat dibuat berdasarkan kondisi pasar yang dihadapi secara langsung.

 

AI Digunakan untuk Menentukan Strategi Penjualan

 

Selain sumber daya manusia, ekspansi ke Thailand juga membawa sistem AI Marketing yang dikembangkan berdasarkan pengalaman mengelola ratusan toko online.

 

Sistem tersebut digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam pengelolaan toko, termasuk menentukan produk yang perlu dipromosikan, memilih kampanye yang diikuti, serta menentukan besaran diskon berdasarkan data.

 

Pendekatan berbasis data ini sebelumnya diterapkan dalam operasional di Indonesia dan kemudian menjadi bagian dari standar pengelolaan di Thailand.

 

Perusahaan juga menerapkan skema garansi peningkatan omzet minimal 20 persen dibandingkan rata-rata enam bulan sebelumnya. Dengan struktur harga pokok penjualan yang berlaku, peningkatan omzet tersebut ditargetkan ikut mendorong pertumbuhan profit klien.

 

Jika target peningkatan omzet tersebut tidak tercapai, klien dibebaskan dari biaya komisi. Skema yang sama disebut turut diterapkan dalam operasional di Thailand.

Andre menilai keberanian menerapkan skema tersebut berkaitan dengan keyakinan perusahaan terhadap sistem pengelolaan yang telah dibangun.

 

"Kami percaya skema itu hanya bisa diberikan ketika perusahaan memiliki sistem yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Garansi itu mencerminkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan yang berorientasi pada hasil dan dapat dievaluasi secara transparan,” ujarnya.

 

Setelah membangun operasional awal, perusahaan berencana memperkuat tim lokal dan terus menyesuaikan sistem dengan kebutuhan pasar Thailand.

Akuisisi brand lokal juga akan dilanjutkan, khususnya untuk bisnis yang membutuhkan dukungan dalam mengembangkan penjualan melalui berbagai platform e-commerce.

 

Ekspansi ini pada akhirnya bukan hanya tentang masuk ke negara baru. Bagi industri e-commerce Indonesia, langkah tersebut menunjukkan semakin terbukanya peluang untuk mengekspor kemampuan pengelolaan bisnis digital ke pasar Asia Tenggara.

 

Thailand pun menjadi pijakan awal untuk menguji seberapa jauh sistem, teknologi, dan pengalaman yang dikembangkan di Indonesia dapat diterapkan secara efektif di pasar regional tanpa mengabaikan karakter konsumen lokal

 

EDITOR: Estu Suryowati