← Beranda
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 3,58 Miliar di Semester I 2026
Djati WaluyoSenin, 3 Agustus 2026 | 20.54 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (JAWA POS)

 

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus pada semester I 2026 sebesar USD 3,58 miliar meski sempat mengalami defisit pada Juni 2026.

“Surplus sepanjang periode Januari-Juni 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 19,35 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 15,77 miliar, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).

Ateng mengatakan, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Juni 2026 mencapai USD 140,81 miliar, naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

“Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,90 persen menjadi USD134,58 miliar,” ujarnya.

Baca Juga: Buntut Temuan Uang Rp 4 Miliar, KPK Periksa Kadir PUPR Bengkulu Noprisman

Ateng mengatakan, tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok sebesar USD 34,56 miliar atau sebesar 25,68 persen, Amerika Serikat sebesar USD 15,82 miliar atau sebesar 11,76 persen, dan India sebesar USD 9,25 miliar atau sebesar 6,87 persen.

Lanjutnya, untuk neraca perdagangan secara keseluruhan, tiga negara penyumbang defisit terbesar Indonesia pada semester I 2026 adalah Tiongkok dengan defisit sebesar USD 13,61 miliar, disusul Australia sebesar USD 4,40 miliar, dan Singapura sebesar USD 4,33 miliar.

Sementara itu, pada kelompok nonmigas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat dengan surplus USD 10,44 miliar, India sebesar USD 6,73 miliar, dan Filipina sebesar USD 4,02 miliar.

Di sisi lain, tiga negara penyumbang defisit terdalam pada kelompok nonmigas adalah Tiongkok sebesar USD 14,26 miliar, Australia sebesar USD 3,97 miliar, serta Prancis sebesar USD 1,49 miliar.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan