← Beranda
Model Negosiasi Tarif Jadi Sorotan, Dorong Ekosistem Ride-Hailing yang Lebih Transparan di Asia Pasifik
Dinarsa KurniawanSelasa, 19 Mei 2026 | 04.37 WIB
Regional Director APAC inDrive Mark Tolley. (Istimewa)

 

 

JawaPos.com-Dinamika industri ride-hailing di berbagai negara terus mengalami perubahan seiring meningkatnya tuntutan terkait tarif, komisi platform, hingga perlindungan dan kesejahteraan pengemudi.

Di tengah tekanan biaya operasional dan perubahan regulasi di sejumlah negara, pelaku industri mulai mencari pendekatan yang dinilai lebih adil dan transparan bagi seluruh pihak dalam ekosistem transportasi digital.

“Dari perspektif Asia Pasifik, aksi pengemudi yang terjadi di berbagai negara mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan transparansi, keadilan, dan keseimbangan dalam ekosistem industri,” ujar Regional Director APAC inDrive Mark Tolley.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri ride-hailing di kawasan Asia Pasifik memiliki pola yang relatif serupa, mulai dari tekanan biaya operasional hingga struktur komisi platform. Meski demikian, setiap negara tetap memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi regulasi, kondisi ekonomi, maupun tingkat persaingan industri.

Karena itu, inDrive menggabungkan prinsip global seperti transparansi dan keadilan dengan pendekatan lokal agar tetap relevan di masing-masing pasar. Faktor lokal disebut sangat memengaruhi keseimbangan antara permintaan dan penawaran, termasuk dalam penentuan tarif layanan.

Salah satu pendekatan yang diandalkan adalah model negosiasi harga antara pengemudi dan penumpang. Skema tersebut dinilai memberi ruang fleksibilitas bagi kedua pihak untuk menentukan tarif sesuai kondisi aktual di lapangan, terutama saat terjadi kenaikan biaya operasional seperti harga bahan bakar.

“Model penentuan harga berbasis negosiasi memberikan fleksibilitas bagi pengemudi untuk menyesuaikan tarif sesuai kondisi aktual,” kata Mark Tolley.

Selain itu, perusahaan juga membuka berbagai kanal komunikasi dengan komunitas pengemudi melalui pertemuan rutin dan inisiatif lokal. Di Indonesia, pendekatan tersebut diperluas lewat kehadiran driver lounge di beberapa kota yang menjadi ruang interaksi sekaligus penyampaian aspirasi secara langsung.

Di sisi regulasi, inDrive memandang kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas pengemudi sebagai faktor penting dalam menciptakan ekosistem transportasi digital yang berkelanjutan. Diskusi mengenai struktur tarif dan komisi di Indonesia dinilai menjadi bagian dari perkembangan industri ride-hailing yang terus bergerak dinamis.

Perusahaan juga terus mengembangkan fitur keamanan di dalam aplikasi untuk mendukung perlindungan pengemudi maupun penumpang. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya meningkatkan pengalaman pengemudi, termasuk peluang pendapatan yang lebih berkelanjutan serta fleksibilitas dalam menggunakan platform.

“Ke depan, kami akan terus berfokus pada peningkatan pengalaman pengemudi, mulai dari peluang pendapatan yang lebih berkelanjutan hingga rasa aman dan fleksibilitas,” tutup Mark Tolley.

EDITOR: Dinarsa Kurniawan