← Beranda
Imbas Karhutla, Kualitas Udara di Balangan-Tabalong Kalsel Masuk Kategori Berbahaya
Tazkia Royyan Hikmatiar• Senin, 12 Oktober 2026 | 20.53 WIB
Pekatnya kabut asap imbas kebakaran lahan menyelimuti kawasan Kabupaten Balangan. Tingkat polusi udara akibat karhutla tercatat mencapai status Sangat Tidak Sehat. (M Dirga/Radar Banjarmasin)

JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan membuat kualitas udara di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan memburuk, dan masuk dalam kategori sangat tidak sehat pada jam orang berangkat kerja. 

Sementara, di Kabupaten tetangganya, yakni Tabalong, pada Minggu (11/10) sempat tercatat masuk kategori berbahaya menurut Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan merilis Peringatan Dini Kualitas Udara pada Senin (12/10).

Kepala Pelaksana BPBD Balangan Rahmi mengungkapkan bahwa konsentrasi partikulat (PM2.5) di Bumi Sanggam menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sejak tengah malam hingga menjelang siang.

Baca Juga: Karhutla Kalimantan Ancam Permukiman, Manggala Agni Kemenhut Berjibaku Lakukan Pemadaman

"Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi sejak pukul 00.00 hingga 09.00 WITA pagi tadi, kondisi kualitas udara di Balangan umumnya berada pada kategori 'Tidak Sehat'," ungkapnya, dilansir dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Grup), Senin (12/10).

Rahmi membeberkan, kondisi udara terburuk terjadi pada jam produktif orang mulai bekerja, yaitu pukul 07.00 hingga 08.00 WITA.

"Pada jam-jam krusial tersebut, grafik menunjukkan konsentrasi tertinggi mencapai angka 158,4 mikrogram per meter kubik. Angka ini secara otomatis menetapkan kualitas udara kita pada kategori 'Sangat Tidak Sehat'," paparnya.

Menyikapi data polusi yang mengkhawatirkan tersebut, Rahmi mengimbau masyarakat untuk segera mengambil langkah proteksi diri.

"Kami sangat menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terlebih pada jam-jam dengan paparan kabut asap tertinggi," jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah Pakai Bantuan Cairan dari Brasil untuk Tangani Karhutla

Jika terpaksa harus keluar rumah, ia menekankan pentingnya penggunaan masker yang memadai, bukan sekadar masker kain biasa.

"Gunakanlah masker berstandar N95 atau KN95 yang terbukti efektif menyaring partikel debu halus. Selain itu, perkuat imun tubuh dengan menjaga pola hidup sehat di tengah kondisi yang kurang bersahabat ini," ucap Rahmi.

Lebih jauh, ia kembali mengingatkan akar dari bencana kabut asap ini dan meminta kerja sama seluruh elemen masyarakat.

"Yang terpenting, stop melakukan pembakaran lahan. Kondisi udara yang kita hirup saat ini adalah konsekuensi langsung dari aktivitas pembakaran tersebut," pungkasnya.

Kabupaten Tabalong, Kalsel, tertutup kabut asap pada Minggu (11/10). Berdasarkan catatan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), Tabalong masuk kategori berbahaya. (Istimewa)
Kabupaten Tabalong, Kalsel, tertutup kabut asap pada Minggu (11/10). Berdasarkan catatan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), Tabalong masuk kategori berbahaya. (Istimewa)

Sementara, di Tabalong, kondisinya nyaris serupa. Beberapa hari belakangan, jalanan tertutup asap.

Baca Juga: Akses Sulit hingga Krisis Air jadi Tantangan Pemadaman Karhutla di Kalimantan

Sinar matahari nyaris tak mampu menembus kabut asap. sejak pagi, Kabupaten Tabalong diselimuti warna abu-abu pekat.

Dalam foto yang diterima JawaPos.com, sejumlah ruas jalan di Kabupaten Tabalong pada Minggu (11/10) pagi nyaris kosong melompong.

Tak sedikit warga yang memilih berdiam diri di rumah, kecuali yang harus bekerja di luar adalau dalam kondisi mendesak.

Siswa di sekolah-sekolah pun beberapa kali dipulangkan lebih cepat. Begitu kabut asap mulai pekat, aktivitas belajar dihentikan dan siswa dipulangkan. 

Baca Juga: Karhutla Hanguskan 123,2 Hektare Lahan di Raja Ampat Papua Barat Daya

EDITOR: Bayu Putra