← Beranda
Bukan Sekadar Membuat Kain, Alat Tenun di Lombok Mampu Pasok Listrik dan Air Bersih
Ryandi Zahdomo• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18.25 WIB
Inovasi alat tenun penghasil listrik di Desa Sukarara Lombok, solusi air bersih dan tingkatkan pendapatan penenun hingga Rp750 ribu per kain. (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Aktivitas menenun sudah menjadi warisan budaya lokal di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kini alat tenun itu disulap menjadi sumber energi listrik. Hasil modifikasi itu menjadikan alat tenun bisa berfungsi sebagai akses air bersih bagi masyarakat sekitar.

Namanya Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimodifikasi secara khusus. Alat itu hasil karya pengrajin dalam program Galeri Mina Tenun yang diprakarsai PT Pertamina Patra Niaga via Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL). 

Pada ATBM itu, gerakan mekanis dari para penenun saat membuat kain dimanfaatkan untuk menghasilkan daya listrik.Listrik yang terhimpun dari gerakan tenun tersebut difungsikan untuk menggerakkan pompa air serta sistem filtrasi di daerah yang rentan dilanda kekeringan ini.

Baca Juga: 12 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas NTT yang Wajib Dibawa Pulang Usai Liburan di Labuan Bajo, Ada Kain Tenun Eksotis Sampai Kopi Bajawa

Inovasi itu disokong oleh Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan, dampak musim kemarau di wilayah NTB kerap menyulitkan warga Desa Sukarara dalam memenuhi kebutuhan air harian. 

Sebelumnya, sebagian rumah tangga terpaksa mencari sumber air yang jauh hingga membeli air bersih guna mencukupi kebutuhan domestik.

Sehingga, Pertamina Patra Niaga melakukan pendekatan inovasi sosial yang menyentuh persoalan mendasar di tengah masyarakat dalam melaksanakan program TJSL.

"Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat," ujar Dian pada Jumat (9/10).

Baca Juga: Liburan Ke Labuan Bajo? Ini Dia 13 Toko Oleh-Oleh Paling Rekomendasi di NTT untuk Berburu Tenun Ikat dan Buah Tangan yang Unik

Dian menerangkan, melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. 

Dongkrak Ekonomi Purna PMI dan Penenun Lokal

Selain meretas krisis air bersih, program ini menyasar penguatan ekonomi purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan perempuan penenun lokal.

Selama ini, para perajin sering terkendala keterbatasan modal serta ketergantungan pada pengepul yang menekan nilai jual kain.

Sebelumnya, penenun di Desa Sukarara kerap hanya menerima upah sekitar Rp25.000 per lembar kain dengan sistem pembayaran acap kali tertunda hingga barang laku di tangan konsumen akhir.

Kehadiran Galeri Mina Tenun memotong rantai distribusi tersebut dengan menyediakan pasokan bahan baku, pembaruan motif, penambahan alat tenun gedogan, hingga kepastian pembayaran langsung setelah produksi selesai.

Skema baru ini mendongkrak pendapatan bersih penenun secara signifikan hingga mencapai minimal Rp 750.000 per lembar kain.

"Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan," tambah Dian.

Melalui integrasi pelestarian budaya, kemandirian ekonomi, dan pemanfaatan energi bersih, terobosan ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di Lombok Tengah.

EDITOR: Ilham Safutra