JawaPos.com - Sebanyak empat guru di UPT SDN 58 Lengkese, Kampung Tamaona, Desa Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, mengeluhkan rasa gatal dan pembengkakan di area mulut usai mencicipi sampel paket Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (21/9) lalu. Makanan MBG tersebut diduga mengandung boraks.
Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, mengatakan empat guru itu menilai rasa makanan yang dicicipi berbeda dari biasanya.
Makanan tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa, Kecamatan Mangarabombang (Marbo).
“Setelah dicicipi, ada empat guru yang mengalami gatal pada bagian mulut. Karena khawatir terjadi sesuatu terhadap anak-anak, makanan tersebut tidak kami bagikan,” kata Supriadi dilansir Harian Fajar (Jawa Pos Group), Kamis (23/9).
Baca Juga: Berbeda 180 Derajat, Kondisi Sinyal saat Demo Buruh dan Aksi Mahasiswa UI
Sekolah tersebut memiliki 86 siswa penerima manfaat MBG dan 12 tenaga kependidikan. Supriadi menegaskan tidak ada siswa yang mengalami gangguan kesehatan akibat menu tersebut karena makanan belum sempat dikonsumsi oleh siswa.
Aduan itu kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Takalar. Hasil laboratorium menemukan kandungan zat berbahaya boraks pada salah satu sampel makanan program MBG.
Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan menyusul adanya keluhan dari tenaga pendidik di UPT SDN 58 Lengkese usai melakukan pengujian rasa pada menu yang dikirimkan, Senin (21/9).
Kepala Dinkes Takalar, Nilal Fauziah, mengonfirmasi bahwa uji sampel sementara menunjukkan hasil positif boraks pada salah satu komponen menu yang diperiksa.
"Tim kesehatan langsung bergerak ke lokasi usai menerima instruksi dari Ketua Satgas untuk melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan mengambil sampel makanan. Dari dua sampel yang kami uji, satu di antaranya positif mengandung boraks," kata Nilal.
Baca Juga: Eks Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Dituntut 5,5 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp 4,19 Miliar
Meski demikian, pihak Dinkes belum menyimpulkan bahwa temuan boraks tersebut merupakan penyebab langsung dari keluhan kesehatan yang dialami para guru. Penelusuran lebih lanjut masih dilakukan untuk mengidentifikasi bahan makanan spesifik serta rantai pengolahannya.
Sementara itu, Kepala SPPG Topejawa, Muhammad Alwi, menjelaskan bahwa pada hari yang sama pihaknya mendistribusikan makanan ke 1.761 penerima manfaat yang tersebar di 11 sekolah dan 11 posyandu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.757 porsi yang dikonsumsi di lokasi lain dilaporkan aman tanpa ada keluhan kesehatan.
Saat ini, pihak Dinkes Takalar bersama instansi terkait masih menunggu hasil pendalaman lanjutan serta pengujian komprehensif di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Takalar guna memastikan standar keamanan pangan seluruh fasilitas penyedia menu MBG di wilayah tersebut.