← Beranda
Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 300, dari Bayi 10 Bulan hingga Relawan SPPG
Dimas Choirul• Kamis, 24 September 2026 | 18.18 WIB
Korban keracunan MBG mendapatkan perawatan di RSUD Batang, Kamis (24/9/2026). (Metro Pekalongan)

JawaPos.com - Insiden keracunan massal yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang terus meluas.

Sejumlah bayi, balita, hingga relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikabarkan ikut menjadi korban setelah mencicipi MBG.

"Usianya (korban) variatif. Ada yang 10 bulan yang paling kecil, sampai dewasa, dan bahkan usia senja. Keluhan mayoritas mereka adalah mual, muntah, diare, dan lemas," ungkap Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, sebagaimana dilansir dari Metro Pekalongan (Jawa Pos Group).

Bupati Faiz langsung turun meninjau kondisi para korban yang membeludak di RSUD Kalisari pada Kamis (24/9) pagi.

Baca Juga: Terus Bertambah, Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang Kini 276 Orang

Bupati Faiz memastikan seluruh fasilitas kesehatan di Batang dalam kondisi siaga penuh.

Membludaknya pasien membuat sebagian korban terpaksa dirawat di lorong rumah sakit akibat keterbatasan ruangan.

Meski demikian, Bupati memastikan penanganan medis terhadap para korban tetap berjalan optimal.

"Kita ngecek kesiapan fasilitas kesehatan. Memang ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Obat-obatan dalam kondisi yang cukup, termasuk di puskesmas-puskesmas," tegas Bupati Faiz.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien lebih lanjut, Bupati telah menginstruksikan agar seluruh tenaga medis disiagakan.

Baca Juga: Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG

Khusus hari ini, sistem pergantian jam kerja (sif) perawat ditiadakan, dan seluruh armada ambulans disiagakan penuh.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah korban keracunan MBG di Batang terus bertambah.

Jika pada Kamis (24/9) pukul 03.00 WIB dini hari tercatat sebanyak 276 orang, angka tersebut diperkirakan telah tembus sekitar 300 pasien pada pagi harinya.

Pasien saat ini tersebar di RSUD Kalisari (46 orang), RSUD Limpung (41 orang), dan sisanya dirawat di berbagai Puskesmas.

Terkait beredarnya isu adanya korban jiwa dalam insiden ini, Faiz dengan tegas membantah. "Tidak ada. Tidak ada yang meninggal dunia," tegasnya.

Baca Juga: BGN Bantah Minta Guru Endus Makanan MBG sebelum Disantap Siswa

Kabar melegakan bagi keluarga korban, Pemerintah Daerah Kabupaten Batang memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban keracunan. Bupati menyebut insiden ini sebagai kejadian luar biasa (force majeure).

Sementara itu, penyebab pasti keracunan masih dalam tahap investigasi. Pihak berwenang masih melakukan uji laboratorium untuk mengetahui secara pasti sumber racun. 

Namun, investigasi intensif terhadap SPPG telah mulai dilakukan untuk mencari penyebab keracunan. 

Sejumlah relawan SPPG dikabarkan ikut menjadi korban setelah mencicipi makanan tersebut.

Lapran terakhir, makanan yang disantap para siswa hari ini mulai dimasak pada pukul 02.00 dini hari dan dijadwalkan selesai didistribusikan pada pukul 12.00 siang.

Baca Juga: Sebanyak 28 Siswa di Jember Diduga Keracunan MBG, Alami Mual dan Gangguan Pencernaan

"Tadi pagi saya sudah telepon Pak Sudaryono dan menyampaikan laporan. Beliau berpesan tolong diaudit semaksimal mungkin, dan di semua SPPG dilakukan monitoring serta investigasi. Kalau direkomendasikan pemda untuk ditutup, dipastikan oleh Pak Kepala BGN untuk ditutup," pungkasnya.

Kondisi memprihatinkan dialami sejumlah keluarga yang harus menjalani perawatan bersama.

Salah satu warga Desa Sokasari, Desi, 34, menceritakan bahwa dirinya beserta dua balitanya, Adam, 5, dan Neswa, 3, terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan.  

"Makannya Selasa siang, mulai enggak enak perut sore hari. Gejalanya sama semua, pusing, muntah, diare, sampai panas," tutur Desi.

Ia mengaku menyantap sisa telur dari porsi anaknya dan tidak mencurigai rasa makanan tersebut saat dikonsumsi.

Baca Juga: Tak Bisa Instan, Melihat Dampak MBG terhadap Stunting Butuh Bertahun-tahun

Ia baru menyadari adanya keracunan massal setelah Puskesmas dipadati warga dengan keluhan serupa serta adanya pengumuman dari pihak sekolah.  

Kisah serupa disampaikan Siti Fatimah, orang tua dari Roman Arfani, 5, siswa TK B Kuncup Mekar. Putranya mulai merasakan gejala mual dan muntah hebat pada Selasa malam usai menyantap makanan program MBG pada pagi harinya.  

"Awalnya ke Puskesmas dikira sakit biasa dan dikasih obat. Tapi setelah ada kabar di sekolah banyak yang keracunan, baru dirujuk ke Puskesmas Bawang lalu dibawa ke sini tadi malam," ungkapnya.

EDITOR: Bayu Putra