JawaPos.com - Janji keluarga pelaku untuk membiayai pengobatan I Gede Selamet, 20, sopir truk yang kritis akibat dibakar atasannya di Denpasar, Bali, mendadak batal setelah mengetahui tagihan rumah sakit membengkak hingga Rp63 juta dan tak di-cover BPJS Kesehatan.
Pihak pelaku yang semula meminta damai kini menghilang dan lepas tangan, meninggalkan keluarga korban yang tergolong kurang mampu dalam kebingungan di RSUP Prof. Ngoerah.
Sebelumnya, keluarga pelaku sempat mendatangi keluarga Selamet untuk menawarkan jalan damai.
Mereka berjanji membiayai seluruh penanganan medis dengan syarat laporan polisi dicabut demi penangguhan penahanan. Namun, janji manis itu sirna begitu melihat rincian tagihan awal.
"Tapi pas tanyakan biaya tindakan pertama ke bapaknya pelaku, dia bilang tidak sanggup. Setelah itu sampai sekarang tidak ada datang atau menghubungi lagi," ungkap paman korban, I Nengah Sridana dikutip dari Radar Bali (JawaPos Group), Rabu (23/9).
Tagihan Medis Membengkak, Tak Dicover BPJS Kesehatan
Kondisi keuangan keluarga Selamet kian terdesak karena perawatan korban ditetapkan sebagai pasien umum.
Fasilitas BPJS Kesehatan tidak dapat digunakan lantaran kasus ini dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Padahal, biaya pengobatan terus membengkak setiap harinya.
"Total rincian pengeluaran untuk sementara per hari ini mulai dari masuk sampai sekarang sudah Rp63 juta. Pada tindakan pertama saja kata dokter butuh Rp19 juta sekian," jelas Sridana.
Keluarga korban yang tergolong masyarakat kurang mampu, dengan orang tua bekerja sebagai petani dan pedagang kecil, kini kebingungan. Terlebih lagi, Selamet selama ini merupakan tulang punggung keluarga.
"Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman. Kami butuh bantuan untuk biaya hidup selama menemani di sini dan biaya obat selanjutnya agar dokter bisa mengambil tindakan," tambah Sridana.
Kondisi Kritis dan Ancaman Trauma Inhalasi
Secara medis, kondisi pemuda berusia 20 tahun tersebut masih sangat memprihatinkan. Selamet mengalami luka bakar serius seluas 68 persen (derajat 2B hingga 3) yang disertai trauma inhalasi akibat terhirup uap panas.
Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, menjelaskan area terparah berada di bagian dada depan hingga melingkar ke belakang.
Kondisi ini membuatnya sangat kesulitan bernapas secara mandiri.
"Pada pasien ini yang paling berat itu daerah toraks depan, dada depan. Persis kayak baju yang dipakai pasien, sama melingkar sampai belakang. Itu yang dalam," jelas dr. Roy.
"Luka bakar dengan melingkar di dada, itu risiko untuk pasien itu bernapas sendiri atau sadar baik itu sangat fighting dia, sangat struggle," terangnya lagi.
Tim dokter memprediksi Selamet membutuhkan 10 hingga 12 kali tindakan operasi cangkok kulit secara bertahap jika berhasil melewati masa kritis dua minggu pertama.
Roy menekankan bahaya besar dari kombinasi luka bakar dan kerusakan saluran napas.
"Kalau dia luka bakar 68% tanpa trauma inhalasi, itu masih survivable, masih bisa. Tapi dengan adanya trauma inhalasi itu 300 kali lipat angka kematiannya," tegas dr. Roy.
Saat ini korban masih dalam kondisi ditidurkan (knockdown) dan dibantu alat pernapasan ventilator.
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI, menyebutkan tim medis berfokus penuh untuk mengamankan jalan napas korban.
"Sehingga ketakutan kami ke depan adalah pembengkakan jalan napasnya," ujar dr. Putu Kurniyanta.
Dipicu Persoalan Setoran Truk Saat Korban Sakit
Dugaan aksi penganiayaan keji ini disinyalir dipicu oleh masalah setoran truk yang belum diserahkan korban selama 15 hari.
Sridana menyebut keponakannya tertunda menyerahkan setoran karena sedang jatuh sakit sebelum insiden terjadi.
"Dia kerja baru sekitar 4 bulan. Yang saya tahu mungkin karena masalah setoran truk. Tapi saat itu korban memang lagi sakit tidur dua hari, panas dingin. Namun korban ini orangnya tertutup, tidak pernah cerita atau curhat masalah pekerjaan ke orang tua," beber Sridana.
Bagi masyarakat atau dermawan yang ingin membantu meringankan beban biaya penanganan medis I Gede Selamet, pihak keluarga telah membuka saluran donasi melalui rekening komunitas/dadia Sangging Prabangkara.