JawaPos.com - Ekonomi sirkular dinilai perlu menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan, bukan sekadar program tanggung jawab sosial.
Pendekatan ini dibutuhkan untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo dalam keterangan tertulisnya mengatakan, pengumpulan dan pengolahan sampah perlu terintegrasi dalam model bisnis agar dapat berjalan berkelanjutan.
“Jika inisiatif ekonomi sirkular sudah jadi bagian dari model bisnis, setiap tahun dalam strategic planning, topik ini otomatis dibahas,” ujar Karyanto dalam sesi Closing the Loop: Circular Economy as a Competitive Advantage pada Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Kamis (17/9).
Baca Juga: Dorong Ekonomi Daerah, Injourney dan Pemprov NTB Matangkan Persiapan MotoGP 2026
Menurut Karyanto, penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan kemasan membutuhkan ekosistem dari hulu hingga hilir. Prosesnya dimulai sejak tahap desain produk, dilanjutkan dengan pengumpulan kemasan bekas, pengolahan di fasilitas daur ulang, hingga pemanfaatannya kembali sebagai bahan baku.
Dalam proses pengumpulan, perusahaan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemulung, bank sampah, fasilitas pengelolaan sampah, serta pemerintah daerah. Material hasil daur ulang juga harus memenuhi standar pemerintah, termasuk SNI, sertifikasi halal, dan ketentuan BPOM.
Namun, pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala.
Baca Juga: Ekonom Dorong Suahasil Capai Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6 Persen
“Di sisi lain, pembangunan ekonomi sirkular di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari regulasi, tata kelola sampah, hingga sistem pengumpulan yang belum seperti negara maju,” kata Karyanto.
Salah satu tantangan terdapat pada penggunaan material daur ulang. Danone Indonesia mulai menggunakan recycled polyethylene terephthalate (rPET) pada 2013 dan kemudian menggunakan 100 persen rPET untuk botol tertentu sejak 2018.
“Salah satu tantangan utama penggunaan material daur ulang adalah memastikan kualitasnya setara dengan material virgin atau bahan baku baru sesuai ketentuan pemerintah,” ungkap Karyanto.
Keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah juga membuat biaya pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan material daur ulang menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat harga material daur ulang masih berada di atas material virgin.
Karyanto menilai tantangan tersebut juga berkaitan dengan perilaku konsumen. Masyarakat perlu melihat kemasan bekas sebagai material yang masih memiliki nilai dan dapat kembali menjadi sumber daya.
Baca Juga: 1 Tahun Purbaya Jadi Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi Melejit Rp 5,61 Persen, Rupiah dan IHSG Ambruk
“Sebenarnya generasi muda saat ini relatif sudah memiliki pemahaman tersebut, dibandingkan 30 tahu lalu saat Danone Indonesia mulai mengembangkan inisiatif pengelolaan sampah,” ujarnya.
Menurutnya, material daur ulang yang telah memenuhi standar tidak berbeda dari material virgin dalam hal higienitas dan kualitas. Namun, perbedaan harga masih menjadi pertimbangan konsumen dan menjadi salah satu tantangan dalam mendorong penggunaan material daur ulang secara lebih luas.