← Beranda
94 Orang Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, Pembenahan Sanitasi dan Pemberian Bantuan jadi Fokus
AntaraKamis, 17 September 2026 | 23.40 WIB
Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym)

 

JawaPos.com — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN berkolaborasi lintas sektor untuk memperbaiki sanitasi dalam rangka mengentaskan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini prevalensinya masih 37 persen, dikutip dari ANTARA.

Pascagempa pada 15 Agustus 2026 yang berdasarkan data Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakibatkan 94 korban meninggal dunia di pengungsian per hari ini, Kemendukbangga/BKKBN berkolaborasi dengan Kitabisa terus berupaya memastikan kondisi ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, perempuan, dan para korban mendapatkan gizi yang cukup serta kebersihan sanitasi.

"Salah satunya (bantuan) ada rumah, air bersih, kemudian juga ada mandi, cuci, kakus (MCK). Jadi, penyebab (stunting) itu nanti yang akan kita kerjakan di sana dan memang menjadi prioritas kita," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji di Jakarta, Kamis.

Baca Juga: Air Bersih Lebih Dekat, Pertamina Dampingi Pemulihan Warga Terdampak Gempa NTT

Ia menegaskan, sebelum ada gempa Kemendukbangga/BKKBN juga telah berkolaborasi dengan berbagai pihak di NTT dalam rangka menurunkan prevalensi stunting.

"Sebelum ada gempa pun, kita sudah bekerja sama dengan kampus-kampus juga dan lebih konkretnya tentu tambah baik, dan semoga nanti semakin cepat untuk bisa kita bantu di sana," ujar dia.

Wihaji menjelaskan, sebelum mengintervensi keluarga berisiko stunting, penting untuk mengetahui penyebab utama atau faktor yang memengaruhi terjadinya kondisi tersebut pada anak.

Baca Juga: Bandung Digunjang 42 Gempa sejak Kemarin, BMKG: Akibat Sesar Aktif

"Yang paling penting adalah sebabnya apa. Untuk menyelesaikan masalah, itu sebabnya kita selesaikan dulu. Kalau sebabnya air bersih, kita bantu air bersih, kalau sebabnya edukasi, kita edukasi, kalau sebabnya asupan gizi, kita asupan gizi, tentu dari sebab itu kita pilih dan kerjakan yang bisa kita kerjakan," paparnya.

Sementara itu, bantuan dari banyak pihak masih terus mengalir untuk para korban terdampak gempa. PT Patra Jasa menyalurkan bantuan dan melibatkan pekerjanya sebagai relawan di wilayah terdampak. Dukungan mencakup kebutuhan pendidikan, bantuan kebutuhan sehari-hari, serta kegiatan kemanusiaan bagi masyarakat dan anak-anak.

Dukungan pendidikan dilakukan melalui bantuan perlengkapan dan fasilitas pembelajaran untuk Ruang Kelas Baru (RKB) PAUD di Pulau Mules, termasuk meja, kursi, dan papan tulis.

Sementara setelah gempa, pekerja Patra Jasa memberikan donasi berupa seragam sekolah dasar, pakaian guru, sarung, dan peralatan bermain anak. Tiga pekerja juga turun langsung sebagai relawan untuk membantu kegiatan trauma healing anak-anak, distribusi makanan, dan penyaluran air bersih.

Pj. VP Corporate Secretary PT Patra Jasa, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan bahwa keterlibatan langsung pekerja menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan.

Baca Juga: Jokowi Kunjungi Warga Terdampak Gempa di Sikka NTT

“Di tengah kondisi yang dihadapi masyarakat NTT, kami ingin hadir tidak hanya melalui bantuan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung Perwira sebagai relawan. Donasi yang diberikan Perwira, dukungan melalui BDI Patra Jasa bersama BAZMA Pertamina, serta kehadiran rekan-rekan kami di lapangan merupakan wujud kepedulian dan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Kami berharap dukungan ini dapat memberikan manfaat dan membantu masyarakat NTT dalam menghadapi kondisi yang sedang berlangsung,” ujar Fadjar.

EDITOR: Banu Adikara