← Beranda
Hasil Lab Keluar, Ditemukan Bakteri Pada Nasi dan Bola Daging, Kasus Keracunan MBG di Sleman
Dimas ChoirulKamis, 17 September 2026 | 00.40 WIB
SPPG Wonokerto, Kapanewon Turi/(Radar Jogja).

JawaPos.com - Hasil pemeriksaan laboratorium sementara dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Turi, Sleman, menemukan dua jenis bakteri pada sejumlah sampel makanan.

Dua bakteri tersebut berasal dari nasi dan bola-bola daging. Kasus tersebut terjadi setelah menu MBG yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto dibagikan kepada penerima manfaat pada Senin (7/9).

Adapun menu yang disajikan saat itu terdiri atas nasi putih, bola-bola sapi goreng, edamame, kari kol wortel, dan semangka kuning.

Dilansir Radar Jogja (Jawa Pos Group), Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada sampel nasi yang berasal dari SPPG Wonokerto.

Bakteri yang sama juga ditemukan dalam sampel bola-bola daging goreng dari SPPG tersebut.

Sementara itu, sampel nasi yang diambil dari SMPN 3 Turi dinyatakan positif mengandung Staphylococcus aureus.

"Sementara pemeriksaan sampel bola-bola daging goreng dari SMPN 3 Turi menunjukkan negatif terhadap E. coli, S. aureus, dan B. cereus," katanya saat dihubungi, Rabu (16/9).

Kesimpulan sementara tersebut diperoleh setelah hasil laboratorium dibandingkan dengan data epidemiologi dan investigasi terhadap pangan yang dikonsumsi.

Dari seluruh temuan tersebut, Bacillus cereus saat ini menjadi bakteri yang paling mungkin berkaitan dengan kejadian keracunan.

Meski begitu, Dinas Kesehatan Sleman belum menetapkannya sebagai penyebab definitif karena masih menunggu pemeriksaan lanjutan serta penggabungan seluruh bukti.

Pada saat kejadian, sebanyak 868 porsi MBG dari SPPG Wonokerto telah didistribusikan dan dikonsumsi oleh penerima manfaat di enam satuan pendidikan.

Keenamnya yakni SD Muhammadiyah Balerante, SMPN 3 Turi, SD Tarakanita Ngembesan, TK Indriyasana Ngembesan, SMK Muhammadiyah 1 Turi, dan SLB Tunas Kasih 2 Turi.

Sementara itu, berdasarkan pendataan hingga Jumat (11/9) pukul 12.30, tercatat sebanyak 680 responden. Sebanyak 540 orang di antaranya mengonsumsi MBG, sedangkan 140 lainnya tidak mengonsumsi makanan tersebut.

Dari jumlah responden tersebut, sebanyak 23 orang memilih menjalani pengobatan secara mandiri, sedangkan 112 lainnya memperoleh penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dari 112 orang yang mendapatkan pelayanan medis, dua orang sempat menjalani rawat inap.

"Gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain pusing, mual, sakit perut, sakit kepala, lemah, muntah, dan diare," tambah Yuliati.

Di sisi lain, Kepala SPPG Wonokerto Turi Rifqi Dimas Pratama mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihaknya untuk memperketat proses pengolahan makanan.

Evaluasi dilakukan mulai dari peningkatan pemahaman para relawan mengenai faktor pemicu pertumbuhan bakteri hingga pendampingan oleh chef bersertifikat.

SPPG juga akan lebih mendisiplinkan penggunaan alat pelindung diri serta melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap air secara berkala.

Selain itu, proses pengolahan bahan pangan akan dibuat lebih terdokumentasi agar setiap tahapan dapat dipantau dengan lebih baik.

"Untuk penerima manfaat yang terdampak semoga lekas pulih, saya mewakili SPPG Wonokerto memohon maaf sebesar-besarnya," ujarnya.

Dimas menambahkan, pihak SPPG juga melakukan pendampingan terhadap penerima manfaat yang terdampak.

Pendampingan dilakukan secara bertahap dengan mendatangi rumah penerima manfaat untuk mengetahui perkembangan kondisi mereka.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra