← Beranda
Waspada! Suhu Jawa Timur Diprediksi Capai 37 Derajat Celsius Saat Puncak Kemarau
Ardini Pramitha• Rabu, 16 September 2026 | 16.48 WIB
ILUSTRASI: Peta analisis kemarau di Jawa Timur per 1 Juni 2025. Warna cokelat menunjukkan wilayah yang masuk kemarau sejak April dasarian I, hijau menandakan wilayah yang masih alami musim hujan. (BMKG Juanda)

JawaPos.com -  Masyarakat Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi suhu panas yang diprediksi mencapai 37 derajat Celsius pada puncak musim kemarau 2026.

BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memprediksi peningkatan suhu mulai terjadi sejak September. Suhu panas diperkirakan semakin meningkat pada Oktober, terutama di wilayah pesisir utara Jawa Timur.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, mengatakan suhu tertinggi di Lamongan pada September telah mencapai 36 derajat Celsius.

Baca Juga: Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang

“Trend suhu meningkat mulai September. Suhu tertinggi Lamongan mencapai 36 derajat celcius,” papar Anung, Rabu (16/9). 

Menurut Anung, kondisi tersebut diprediksi mencapai puncaknya pada Oktober. Suhu bahkan diperkirakan menyentuh 37 derajat Celsius, khususnya di kawasan pesisir utara.

“Puncak peningkatan suhu diprediksi Oktober, dengan menyentuh angka 37 derajat celcius, khususnya di pesisir utara,” terangnya.

Selain suhu panas, masyarakat juga perlu mewaspadai peningkatan kecepatan angin yang bisa mencapai lebih dari 30 kilometer per jam.

Baca Juga: Dari Batik hingga Wayang, Begini Cara Pokémon Belajar Mendekati Indonesia

“Ini berlangsung hingga peralihan musim nanti bulan November, hanya saja bisa fluktuatif,” jelasnya.

Anung menjelaskan, peningkatan suhu tersebut terjadi di tengah prediksi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang akibat dampak El Nino.

Awal musim hujan di Jawa Timur diperkirakan baru terjadi pada Desember Dasarian I. Dampak El Nino disebut masih cukup kuat hingga awal 2027.

“Umumnya awal musim hujan baru awal Desember. Dampak dari El Nino sangat kuat hingga awal tahun 2027,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi cuaca tetap dinamis. Pemicu cuaca dalam skala mingguan dapat menyebabkan perubahan sehingga masyarakat diminta tetap memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala.

“Kami imbau masyarakat untuk beradaptasi, terhadap fenomena alam El Nino ini,” imbuh Anung.

Baca Juga: Bukan Dijual, Poké Wayang Bakal Dibawa Pokémon ke Beberapa SD di Indonesia

Di sisi lain, seluruh wilayah Jawa Timur disebut telah memasuki fase kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut terjadi meski beberapa wilayah di bagian selatan sempat mengalami hujan dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Anung, kekeringan meteorologis dapat berimplikasi terhadap kekeringan hidrologis, pertanian, hingga sosial.

Karena itu, masyarakat diminta mulai melakukan manajemen pemanfaatan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun konsumsi.

“Baik air konsumsi atau rumah tangga, terapkan hemat air, biasanya sumber air permukaan mengering,” ucapnya.

Baca Juga: Prediksi Skor Sturm Graz vs Rennes di Liga Europa: Les Rennais Curi Poin di Graz Liebenau

Bagi petani, penyesuaian kalender tanam dan komoditas pertanian juga perlu dilakukan dengan mengacu pada alokasi irigasi teknis.

Pemerintah juga diimbau menyiapkan distribusi air bersih bagi masyarakat yang berada jauh dari sumber air.

Selain persoalan air, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), mengingat kondisi lahan saat ini berada dalam kondisi kering kritis.

“Mengingat saat ini lahan dalam posisi kering kritis. Imbauan maupun sosialisasi harus aktif dilakukan,” ujarnya.

Menghadapi suhu yang diprediksi mencapai 37 derajat Celsius, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi kesehatan tubuh.

Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, terutama saat melakukan aktivitas di tengah cuaca panas.

Baca Juga: Prediksi Skor Hapoel Be'er Sheva vs Dinamo Zagreb di Liga Europa: Modri Curi 3 Poin di Laga Tandang

“Terakhir adalah menjaga indeks kenyamanan tubuh terhadap peningkatan suhu, atau puncak paparan matahari langsung, dan kelembaban udara yang rendah,” tandas Anung.

Masyarakat diimbau terus memperbarui informasi mengenai perkembangan cuaca dan musim melalui kanal media sosial resmi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.

EDITOR: Bintang Pradewo