← Beranda
Kronologi Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal: Bukan Dikeroyok, Siswa Menangkis Lalu Memukul Rahang
Dadang Kurnia• Selasa, 15 September 2026 | 22.54 WIB
ilustrasi jenazah

 

JawaPos.com - Meninggalnya guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Nganjuk, Suaidi, 56, dipastikan bukan karena dikeroyok siswa. Namun dia sempat mendapat pukulan dari siswa di bagian rahang.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Timur, Sugiyo mengatakan, kejadian bermula saat sang guru tengah menggunakan toilet. Kemudian ada siswa yang menggedor-gedor pintu toilet karena menganggap yang di dalam toilet adalah temannya.

"Kan biasa anak-anak itu kan kalau ke temannya kan kadang kan teriak-teriak, nggih, mukul-mukul pintu gitu ya. Anak ketika dengan teman-temannya itu kan biasa, guyon (becanda)" ujarnya saat dikonfirmasi JawaPos.com, Selasa (15/10).

Setelah keluar dari toilet, guru asal Kediri itu pun mencari siswa yang menggedor-gedor pintu toilet tadi untuk menegurnya. 

Baca Juga: Perbesar Porsi Talenta Lokal di MotoGP Mandalika 2026, Gubernur Iqbal: Ajang Transfer of Knowledge

"Setelah gurunya keluar itu, gurunya nyari. Nama anak itu dicari di kelas, kemudian ya ditegur sama gurunya," kata sugiyo.

Saat berada di luar kelas, lanjut Sugiyo, ternyata guru tersebut masih belum bisa menerima perlakuan dari siswanya. Kemudian sang guru tersebut mencoba memberikan pukulan yang kemudian ditangkis oleh anak didiknya tersebut.

"Ditangkis kemudian gurunya dipukul juga gitu. Nah, kena rahangnya, itu roboh gitu. Kemudian ditolong sama anak-anak. Jadi kalau di berita ada pengeroyokan itu nggak benar juga itu," ucap Sugiyo.

Setelah kejadian tersebut, si anak kemudian dibawa ke ruang Bimbingan dan Konseling (BK). Sementara sang guru melanjutkan mengajar ke kelas lainnya.

"Nah, di saat beliau mau mengajar kelas lain itu, muntah-muntah gitu. terus dibawa ke rumah sakit. Jadi oleh sekolah dibawa ke rumah sakit dan ternyata beliau punya tensi tinggi," terang Sugiyo.

Setelah lima hari mendapat perawatan di rumah sakit, sang guru itu pun kemudian dinyatakan meninggal dunia. Sugoyo mengatakan, berdasarkan keterangan medis, sang guru tersebut dinyatakan meninggal bukan karena pukulan dari siswa.

Setelah peristiwa tersebut, Sugiyo mengakui siswa madrasah tersebut mengalami goncangan mental. Maka dari itu, ada upaya untuk memindahkan sang anak ke sekolah lain.

"Kemarin itu ada upaya untuk dipindah dan sebagainya. Nah kita masih juga nunggu proses kan. Tapi saya menyampaikan bahwa ya kan ini anak gitu lho. Jadi ya itu anak-anak yang harus juga dilindungi dari rasa ketakutan. Sementara ya ditenangkan dulu, gitu. Lagipula pihak keluarga dari yang meninggal juga tidak menuntut apa-apa," ucapnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan