← Beranda
Bertahan Selama 20 Hari Setelah Melarikan Diri, Polisi Berhasil Evakuasi Seorang Sandera KKB
Syahrul YunizarSenin, 14 September 2026 | 23.32 WIB
Petugas kepolisian mengevakuasi seorang warga yang menjadi sandera KKB sejak 17 Agustus lalu. Evakuasi berlangsung hari ini (14/9) menggunakan helikopter. (Polri)

JawaPos.com - Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz bersama Polres Mimika dan tokoh masyarakat berhasil mengevakuasi seorang warga bernama Demerina Uamang.

Perempuan berusia 23 tahun itu adalah salah satu dari 9 warga yang disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sejak 17 Agustus lalu.

Sebelum dievakuasi oleh petugas hari ini (14/9), Demerina sudah melarikan diri dari KKB dan bertahan selama 20 hari.

Dia dievakuasi dari Kampung Bela 1, Distrik Alama, Kabupaten Mimika menuju Timika.

Kepala Satgas Operasi Damai Cartenz Irjen Pol Faizal Ramadhani menyatakan keberhasilan evakuasi tersebut merupakan hasil kerja bersama yang mengutamakan keselamatan korban.

"Prioritas kami adalah memastikan korban dapat dijemput dan dievakuasi dengan selamat. Komunikasi dengan semua pihak menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas kamtibmas," kata dia dalam keterangan resmi yang diterima oleh awak media.

Faizal memastikan dalam proses evakuasi korban dibutuhkan koordinasi dan kesabaran. Sebab kondisi medan dan cuaca menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan oleh petugas.

Setelah berhasil mengevakuasi korban, polisi memastikan yang bersangkutan mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Sementara itu, Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Yusuf Sutejo menyatakan bahwa keberhasilan evakuasi tersebut merupakan hasil kerja sama antara Satgas Operasi Damai Cartenz dengan Polres Mimika dan tokoh masyarakat.

"Alhamdulillah, hari ini Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Mimika dan dibantu oleh tokoh masyarakat yang ada di Mimika telah berhasil mengevakuasi satu korban selamat atas nama Demerina Uamang," kata dia.

Menurut Yusuf, sejak peristiwa penculikan terjadi pada 17 Agustus 2026 lalu, upaya pencarian terhadap para korban terus dilakukan.

Informasi mengenai keberadaan korban kemudian diterima pada 7 September 2026 dari jejaring polisi yang berada di Distrik Jila.

Saat itu, seorang kepala kampung dari Kampung Bela 1 datang ke Distrik Jila untuk melaporkan bahwa masyarakat telah menemukan seorang korban selamat di wilayah Bela.

Karena identitas korban belum diketahui, polisi kemudian melakukan investigasi dan proses identifikasi.

"Awalnya mereka tidak mengetahui siapa korban tersebut. Kemudian kami melakukan investigasi dan proses identifikasi. Hasilnya, benar bahwa adik Demerina Uamang merupakan korban penculikan yang terjadi pada 17 Agustus yang lalu," terang dia.

Saat ditemukan, Demerina tidak sendirian. Dia bersama seorang rekannya bernama Yosina yang sudah meninggal dunia.

Yusuf mengaku sangat menyesal karena Yosina ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Apalagi kondisinya mengkhawatirkan.

"Adik Yosina ditemukan telah meninggal dunia karena kondisinya sangat kurus dan tidak mendapat asupan makanan," ujarnya.

Berdasar informasi yang diterima oleh polisi, kedua korban telah bertahan selama 20 hari dalam kondisi yang sangat berat.

Mereka disebut berhasil kabur dari KKB. Demerina ditemukan dalam keadaan lemah dan kemudian mendapatkan perawatan dari masyarakat Kampung Bela.

"Mereka berjuang selama 20 hari di hutan, tidak makan dan minum. Demikian juga adik Demerina Uamang ditemukan dalam kondisi fisik yang lemah. Kemudian warga kampung yang ada di Bela berinisiatif membantu merawat sehingga adik Demerina ini bisa selamat," bebernya.

Demerina dibawa menggunakan Helikopter Bell Polri P-3002 milik Satgas Operasi Damai Cartenz dan tiba di Landasan Helikopter Mako Yon B Pelopor Sat Brimobda Papua Tengah pada pukul 09.08 WIT.

Setibanya di Timika, Demerina langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Timika untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan penanganan medis.

"Sementara adik Demerina belum dapat kami minta (untuk) memberikan keterangan karena kondisinya memang sangat syok. Mungkin dia melihat bagaimana rekannya, adik Yosina, meninggal dunia di sampingnya," jelas dia.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra