JawaPos.com - Pemilik Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu, Khaeruddin, akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada seluruh wali murid dan tenaga pendidik.
Ia meminta maaf atas responsnya terhadap kasus keracunan MBG yang melibatkan SPPG-nya, di mana ia malah menyalahkan siswa.
Diketahui sebelumnya, alih-alih hanya menyoroti proses pengolahan dan distribusi, Khaeruddin menyebut sebagian siswa yang memiliki riwayat maag seharusnya tetap sarapan dari rumah sebelum menyantap menu MBG.
Ia mengakui bahwa respons yang sempat ia lontarkan beberapa hari lalu itu murni dipicu rasa panik saat menghadapi musibah keracunan masal yang menimpa ratusan siswa.
Baca Juga: Trauma Keracunan, Wali Murid di Pati Minta MBG Diganti Bantuan Tunai
"Pernyataan sebelumnya adalah bentuk kepanikan kami," aku Khaeruddin, dilansir dari Lombok Post (Jawa Pos Group), Senin (14/9).
Sikap melunak ini disampaikan di tengah langkah tegas Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat yang resmi membekukan sementara operasional SPPG Lombok Tengah selama 20 hari ke depan.
Akibat penghentian tersebut, distribusi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ribuan penerima manfaat terhenti total dan seluruh relawan dirumahkan sementara waktu.
Di lokasi kejadian, aktivitas dapur SPPG tampak lumpuh dan lengang, hanya dijaga oleh beberapa personel kepolisian.
Khaeruddin menyatakan pasrah menghadapi gelombang penolakan dari wali murid. Meski begitu, ia berharap program ini kelak bisa diterima kembali oleh masyarakat.
Baca Juga: Kabar Dana Bansos Dipotong untuk MBG, Kemensos: Tidak Benar!
Selama masa pembekuan 20 hari, Khaeruddin berjanji akan berbenah total. Pihak yayasan siap melengkapi kekurangan fasilitas dan membenahi komposisi makanan yang sempat disorot publik.
"Yang menonjol jadi sorotan kan menunya. Jangan menu yang aneh-aneh, kiranya menu yang lokal saja," tegasnya.
Selain masalah menu, ia juga mengklarifikasi terkait tudotan ketiadaan stiker batas waktu konsumsi pada wadah makanan (omprengan).
Menurut dia, belum ada aturan baku terkait jenis stiker yang food grade sekaligus tidak merusak wadah saat dicuci.
Kini, pihak yayasan menyerahkan penuh proses evaluasi teknis kepada Kepala SPPG Lombok Tengah serta menyatakan siap berkoordinasi intensif dengan pemerintah pusat demi membenahi seluruh layanan.
Baca Juga: Jumlah Korban Keracunan MBG di Lombok Tengah Bertambah Jadi 352 Siswa