JawaPos.com - Program Makan Berrgizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk anak sekolah justru menyisakan pengalaman buruk bagi beberapa siswa di Gembong, Pati, Jawa Tengah.
Ia harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami serangkaian gejala keracunan usai menyantap hidangan dari program MBG di sekolahnya. Insiden ini kemudian menimbulkan rasa trauma bagi sang anak.
Anis, ibunda dari Jeneta, menuturkan bahwa putrinya mengeluhkan sakit setelah mengonsumsi menu MBG berupa nasi bakar yang dibagikan pada hari sebelumnya. Makanan tersebut diperkirakan dibagikan m sekitar pukul 11.00 siang.
Baca Juga: Prediksi Skor PSG vs Slovan Bratislava di Liga Champions: Les Parisiens Bisa Unggul Telak
"Katanya sih makan MBG itu kan, menunya nasi bakar, menu kemarin," ujar Mak Nis saat mendampingi putrinya yang tampak masih lemas, dilansir Radar Pati (Jawa Pos Group), Rabu (9/9).
Adapun gejala keracunan yang dialami Jeneta terbilang cukup parah. Dia menjelaskan bahwa putrinya tidak hanya sekadar merasa mual.
"Yang dirasakan ya mual, muntah, mimisan. BAB (buang air besar) juga sudah empat kali sampai saat ini," jelas warga Desa Kedungbulus itu.
Kabar mengenai keracunan ini menyebar cepat melalui grup komunikasi orang tua murid, yang membuat para wali murid, termasuk dirinya, panik. Ia pun segera bergegas menuju lokasi evakuasi anak-anak mereka.
Baca Juga: Sidak Lapangan Padel Meruya: DPRD DKI Temukan Pembangunan Tetap Berjalan Meski Sudah Disegel
Anis pun tak menampik bahwa dirinya merasa sangat was-was saat pertama kali mendengar kabar buruk tersebut. Beruntung, kondisi kesehatan Jeneta saat ini berangsur membaik meski sempat mengalami penolakan tindakan medis karena ketakutan.
Anis menyebutkan bahwa putrinya enggan dipasangkan infus. "Sudah baikan, tapi anaknya nggak mau diinfus kok," tuturnya.
Meski kondisi fisiknya mulai pulih, insiden keracunan ini nyatanya meninggalkan dampak psikologis.
Saat ditanya apakah putrinya merasa trauma untuk menyantap hidangan MBG di kemudian hari, Anis mengonfirmasi hal tersebut.
"Ya, trauma sih (kalau ada MBG-MBG selanjutnya)," ungkapnya dengan nada khawatir.
Anis berharap, peristiwa ini diharapkan menjadi evaluasi besar bagi pihak penyelenggara dan penyedia makanan dalam program tersebut agar kejadian serupa.
Baca Juga: Sidak Lapangan Padel Meruya: DPRD DKI Temukan Pembangunan Tetap Berjalan Meski Sudah Disegel
Sebab mempertaruhkan kesehatan dan psikologis anak-anak, tidak terulang kembali di masa mendatang.
Sementara itu, salah seorang siswa SMPN 1 Gembong, Reza, mengaku sempat menikmati makanan MBG yang dibagikan di sekolah. Menurutnya, menu tersebut terasa enak saat disantap.
Namun, setelah mengetahui sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan, ia mengaku khawatir program MBG kembali dilanjutkan. "Itu enak, tapi banyak yang keracunan. Di kelas saya ada lima," tutur Reza.
Reza mengatakan dirinya juga mengalami sakit perut setelah mengonsumsi makanan tersebut. Kondisi itu membuatnya harus beberapa kali pergi ke toilet.
"Sakit perut, ke toilet tiga kali," ujarnya.
Baca Juga: BAIC Ramaikan GIIAS Bandung, Dorong Pasar SUV ke Era Hybrid dan Listrik
Pengalaman tersebut membuat Reza berharap distribusi MBG untuk sementara dihentikan hingga ada kepastian mengenai keamanan makanan yang diberikan kepada siswa.
"MBG enggak dilanjut, enggak aman. Alasannya takut, takut keracunan," pungkasnya.