← Beranda
Bawang Merah Nganjuk Jadi Andalan Jatim, Hasil Panen Tembus 20 Ton per Hektare
Dimas ChoirulRabu, 9 September 2026 | 19.27 WIB
Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menunjukkan peningkatan produksi. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Produktivitas bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menunjukkan peningkatan. Hasil panen dalam demonstration plot (demplot) budidaya bawang merah mencapai 20 ton per hektare, naik sekitar 11-12 persen dibandingkan panen sebelumnya yang berada di angka 18 ton per hektare.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu gambaran potensi pengembangan bawang merah di Nganjuk yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi komoditas hortikultura tersebut.

Data dalam rilis Petrokimia Gresik menyebutkan, Jawa Timur memiliki peran penting dalam produksi bawang merah nasional. Pada 2024, produksi bawang merah Jawa Timur mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektare.

Sementara itu, produksi bawang merah secara nasional tercatat 2.085.721 ton dengan luas panen 188.561 hektare. Dengan capaian tersebut, produksi Jawa Timur berkontribusi sekitar 23 persen terhadap produksi bawang merah nasional.

Di tingkat daerah, Nganjuk menjadi salah satu sentra utama bawang merah. Kabupaten tersebut juga memiliki varietas lokal Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk yang disebut memiliki karakteristik umbi dengan warna menarik, ukuran relatif seragam, serta daya simpan yang baik.

Peningkatan produktivitas hingga 20 ton per hektare salah satunya terlihat dalam program budidaya yang melibatkan 120 petani dari enam kecamatan di Nganjuk. Para petani mengikuti rangkaian kegiatan sejak Maret hingga September 2026 dengan menerapkan praktik budidaya di lahan masing-masing.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan peningkatan produktivitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah hasil panen, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan budidaya.

“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan budidaya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Praktik-praktik terbaik seperti inilah yang ingin terus kami kembangkan dan sebarkan melalui Pestani,” ujar Adityo dalam keterangannya, dikutip Rabu (9/9).

Dalam kegiatan tersebut, aspek budidaya juga dinilai berdasarkan sejumlah parameter, seperti keseragaman umbi, berat hasil panen, serta dokumentasi proses budidaya. Pendekatan tersebut mendorong petani untuk memperhatikan kualitas hasil, selain mengejar peningkatan produksi.

Adityo menyebut bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, tetapi juga terus mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Semangat tersebut salah satunya kami wujudkan melalui Program Pestani,” ujar Adityo.

Sementara itu, petani asal Kecamatan Gondang, Suheri, mengatakan pendampingan yang diberikan turut memberikan informasi mengenai penggunaan pupuk nonsubsidi dalam budidaya bawang merah.

“Kami dalam kegiatan ini mendapatkan informasi terkait pupuk-pupuk nonsubsidi yang terbukti mendorong peningkatan produktivitas bawang merah. Alhamdulillah tanaman hasilnya berkualitas,” ujar Suheri.

Peningkatan hasil panen tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pengembangan komoditas bawang merah di Nganjuk masih memiliki ruang untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah penyumbang produksi bawang merah nasional, penguatan produktivitas di sentra seperti Nganjuk turut menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan komoditas tersebut.

EDITOR: Estu Suryowati