← Beranda
Karhutla Meluas di Sejumlah Wilayah, Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Jadi Perhatian
Banu AdikaraSelasa, 8 September 2026 | 13.45 WIB
Tim Gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. (BNPB)

 

JawaPos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Indonesia saat musim kemarau 2026.

Hingga 6 September, luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.008 hektare, dengan sekitar 734 hektare masih dalam penanganan.

Enam wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. BNPB menyebut puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September, sehingga risiko kebakaran masih perlu diwaspadai.

Baca Juga: Efek Modifikasi Cuaca untuk Tekan Karhutla di Jatim, Hujan Ringan Guyur Sejumlah Daerah

Karhutla juga terjadi di sejumlah kawasan lain. Pada awal September, misalnya, kebakaran tercatat di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, hingga Kepulauan Bangka Belitung. Di Kalimantan Utara, Kabupaten Bulungan mencatat kebakaran lahan yang mencapai puluhan hektare dalam beberapa kejadian.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan kembali mengemuka, termasuk dari sisi produk yang menggunakan bahan baku hutan. Salah satunya melalui kampanye FSC Forest Week 2026 yang digelar di Bogor pada 4 September.

Kampanye yang mengusung tema Choose Forests. Choose FSC. tersebut mendorong konsumen dan pelaku usaha mempertimbangkan asal-usul produk berbahan dasar hutan, termasuk kertas, kemasan, dan tisu.

Baca Juga: PT Timah Kerahkan 15 Fire Fighter Tangani Karhutla di Kalimantan Barat

FSC atau Forest Stewardship Council merupakan organisasi yang mengembangkan sistem sertifikasi untuk memastikan produk berbasis hutan berasal dari sumber yang dikelola secara bertanggung jawab.

CEO IRCOMM Group dan FSC Member Isra Ruddin mengatakan keberlanjutan perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, termasuk melalui rantai pasok.

“Keberlanjutan tidak lagi jadi pilihan, tapi bagian dari strategi bisnis yang bertanggung jawab,” kata Isra.

Sementara itu, Business & Value Chain Development Manager FSC Indonesia Indra Setia Dewi mendorong sektor hospitality seperti hotel, restoran, dan kafe mulai menggunakan produk bersertifikat FSC.

“Ketika masyarakat pilih produk berlabel FSC, mereka ikut lindungi hutan. Ini langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja,” katanya.

Baca Juga: Polri Tetapkan 138 Tersangka Karhutla, Korporasi Nakal Siap Diusut

Di sisi lain, penanganan karhutla saat ini tidak hanya mengandalkan pemadaman. Pemerintah juga memperkuat pencegahan, patroli, pemantauan titik panas, operasi udara, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. BNPB mencatat hingga 7 September terdapat 200 laporan polisi terkait karhutla dan 138 tersangka telah ditetapkan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan tidak cukup ditangani melalui pemadaman ketika api sudah muncul. Pencegahan, pengelolaan lahan, penegakan hukum, dan upaya menjaga permintaan terhadap produk yang berasal dari sumber hutan yang bertanggung jawab menjadi bagian dari upaya yang lebih panjang untuk menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.

EDITOR: Banu Adikara