JawaPos.com - Prosesi Ruwatan Anak Berambut Gimbal menjadi salah satu daya tarik utama Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Tradisi yang digelar di Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, itu menarik perhatian ribuan wisatawan.
Lebih dari 2.000 wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara memadati kawasan Kompleks Candi Arjuna pada Sabtu. Mereka datang untuk menyaksikan secara langsung prosesi pemotongan rambut anak-anak berambut gimbal yang menjadi tradisi masyarakat Dieng.
Ruwatan rambut gimbal merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dieng. Keberlangsungannya hingga kini menjadi bagian penting dari kekayaan budaya lokal sekaligus daya tarik wisata di kawasan dataran tinggi tersebut.
Wisatawan tidak hanya disuguhi pertunjukan budaya dalam prosesi tersebut. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung kearifan lokal masyarakat Dieng yang terus dipertahankan lintas generasi.
Wisatawan Jakarta Terpukau Suasana Dieng
Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Nur Asyiah, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda saat pertama kali menghadiri prosesi ruwatan tersebut. Ia datang bersama putrinya, Sabrina, untuk menyaksikan langsung tradisi yang selama ini dikenal sebagai salah satu identitas budaya Dieng.
"Ini pengalaman pertama saya menghadiri acara seperti ini. Suasananya sangat ramai dan mengesankan," kata dia didampingi putrinya, Sabrina.
Baca Juga: Digelar 28-30 Agustus 2026, Dieng Culture Festival Usung "Spirit of Harmony"
Menurut Nur, suasana Dieng memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan kehidupan sehari-hari di Jakarta. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kunjungannya dalam DCF 2026 semakin berkesan.
"Kalau di Jakarta kan panas, macet dan banyak polusi. Di sini langitnya biru, awannya bagus, udaranya sangat sejuk dan alamnya masih asri," katanya.
Ia juga menilai udara di Dieng terasa lebih dingin dan alami dibandingkan sejumlah kawasan wisata lainnya. Bahkan, suhu yang sejuk membuatnya merasa tidak membutuhkan kipas angin meski beraktivitas pada siang hari.
Bagi Nur, perpaduan antara tradisi budaya dan kondisi alam menjadi pengalaman yang menarik. Keduanya menjadi alasan kuat untuk menikmati rangkaian DCF 2026.
Ingin Kembali ke Dieng
Sementara itu, Sabrina mengaku kedatangannya ke Dieng tidak hanya untuk melihat prosesi ruwatan anak berambut gimbal. Ia juga memiliki rencana mengunjungi Bukit Sikunir setelah melihat keindahan kawasan tersebut melalui media sosial.
Namun, keinginan tersebut belum terlaksana karena dirinya bersama rombongan mengalami kelelahan dan bangun terlambat. Meski begitu, rencana untuk kembali ke Dieng tetap ada.
Sabrina dan ibunya berencana mengunjungi Dieng lagi pada kesempatan berikutnya. Kali ini, mereka ingin mengajak anggota keluarga lainnya untuk menikmati keindahan alam sekaligus menyaksikan tradisi budaya masyarakat setempat.
Wisatawan Kazakhstan Sebut DCF Autentik
Daya tarik DCF 2026 juga dirasakan wisatawan mancanegara. Madina, wisatawan asal Kazakhstan, mengaku mendapatkan pengalaman berkesan saat menghadiri festival tersebut yang sekaligus menjadi kunjungan pertamanya ke Indonesia.
Madina memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik dan bekerja di bidang kehumasan. Selama berada di Indonesia, ia sengaja mengeksplorasi Pulau Jawa, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah lainnya.
"Saya terkesan dengan festival ini. Atmosfernya luar biasa dan penyelenggaraannya sangat menarik," katanya.
Menurut Madina, budaya dan tradisi masyarakat lokal menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari. Ia juga melihat kehidupan masyarakat Dieng memberikan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan asing.
Madina menilai pengalaman yang diperolehnya di Dieng terasa autentik dan menunjukkan karakter khas Indonesia. Ia melihat budaya lokal di kawasan tersebut masih kuat dan tidak terlalu terpengaruh gaya kebarat-baratan.
Pengalaman tersebut membuat DCF tidak sekadar menjadi agenda wisata bagi Madina. Festival tersebut sekaligus menjadi ruang bagi wisatawan mancanegara untuk mengenal tradisi dan kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih dekat.
DCF Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan DCF bukan hanya kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Festival tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
“Kegiatan ini adalah kolaborasi, kepedulian dari seluruh elemen masyarakat yang cinta terhadap budaya, cinta akan pariwisata dan mendukung UMKM dalam ekonomi kreatifnya,” katanya.
Menurut Amalia, keberadaan DCF memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Selain menjaga keberlangsungan tradisi, kegiatan tersebut turut membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Ia merujuk pada rilis Bank Indonesia yang mencatat penyelenggaraan DCF 2025 memberikan dampak ekonomi berupa perputaran uang sekitar Rp50 miliar bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Dengan demikian, DCF tidak hanya menjadi panggung untuk memperkenalkan tradisi ruwatan anak berambut gimbal. Festival tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat Dieng.